PALANGKA RAYA -- Langit yang menguning kemerahan menjadi latar kehidupan warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Asap menyelimuti pepohonan, halaman rumah, hingga bangunan tempat mereka beraktivitas. Di tengah udara yang tampak keruh, warga tetap menjalani keseharian, mengurus keluarga, dan berusaha melanjutkan hidup seperti biasa.
Bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap bukan sekadar pemandangan di kejauhan. Kabut itu hadir di sekitar tempat tinggal, menyelimuti lingkungan yang mereka kenal, sekaligus menjadi kondisi yang harus dihadapi dalam keseharian.
Aktivitas sehari-hari tidak bisa berhenti ketika asap datang. Warga tetap memiliki rumah yang harus diurus, keluarga yang perlu diperhatikan, serta kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Mereka berada dalam situasi ketika lingkungan tempat tinggal berubah akibat asap, sementara kehidupan terus menuntut untuk berjalan.
Asap yang menyelimuti permukiman dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Paparan asap karhutla juga berisiko mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Di Palangka Raya, kehidupan tetap terlihat di antara pepohonan, rumah, dan jalan yang diselimuti kabut. Di balik aktivitas yang terus berlangsung, ada kebutuhan sederhana yang tidak boleh diabaikan: udara yang lebih bersih, lingkungan yang aman, dan kesempatan bagi setiap keluarga untuk menjalani hari tanpa harus terus beradaptasi dengan asap.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : AFP