REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekspor pupuk urea ke Australia ditargetkan mencapai 250 ribu ton hingga akhir 2026, sementara kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas. Untuk menjaga pasokan selama musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027, stok pupuk di gudang produsen PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) disiapkan lebih dari 245 ribu ton.
Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim Andik Cahyanto Budiarto mengatakan, perusahaan mulai mengirimkan pupuk urea ke Australia melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G) pada Mei 2026. Pengiriman tersebut menjadi langkah perusahaan untuk memperluas pasar ekspor sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi.
Baca Juga- Inovasi PLTS Atap Pupuk Kaltim Pangkas Emisi hingga 10 Ribu Ton CO2
- Pupuk Kaltim Bidik Penghematan Rp228 Miliar dari Modernisasi Pabrik
- Proyek Pupuk Kaltim Turunkan Konsumsi Energi Usai Revamping dengan Teknologi Swiss
"Pengiriman perdana sebanyak 47.250 ton urea dari Bontang, menjadi bagian dari target ekspor bertahap sebesar 250 ribu ton hingga akhir tahun," ujar Andik dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Kerja sama tersebut menandai dimulainya perdagangan pupuk melalui skema G2G antara Indonesia dan Australia. Selain membuka peluang ekspor, pengiriman urea juga diharapkan memperkuat rantai pasok pupuk di kawasan Asia Pasifik.
"Bagi Pupuk Kaltim, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan kapasitas produksi, serta memperkuat posisi di tengah dinamika industri global," ucap Andik.
Menurut Andik, pengembangan pasar internasional harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan pupuk nasional. Karena itu, perusahaan mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi operasional, dan menjaga kesiapan distribusi.
"Dari hal itu, pasar internasional dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengesampingkan mandat perusahaan dalam mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional," sambung Andik.
Hingga 30 September 2026, produksi amonia Pupuk Kaltim mencapai 2.171.024 ton atau 79,23 persen dari target. Sementara itu, produksi urea mencapai 2.812.801 ton atau 81,29 persen dari target, sedangkan produksi NPK sebesar 263.457 ton atau 82,07 persen.
Capaian produksi tersebut menjadi salah satu penopang kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan industri dan pertanian. Pupuk Kaltim juga menyiapkan persediaan pupuk untuk menghadapi musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027.
Stok pupuk di gudang produsen lini I tercatat sebanyak 236.417 ton urea dan 8.658 ton NPK. Dengan demikian, total persediaan kedua jenis pupuk tersebut mencapai 245.075 ton.
"Kesiapan stok menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kesinambungan pasokan, sehingga aktivitas produksi dan ekspor tetap sejalan dengan kebutuhan pupuk nasional," lanjut Andik.
Di tengah pengembangan pasar ekspor, Pupuk Kaltim memperoleh Penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Produk Industri Manufaktur dari Kementerian Perdagangan. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi perusahaan dalam perdagangan luar negeri dan pengembangan pasar internasional.
Andik mengatakan, perusahaan akan mempertahankan kualitas produk dan keandalan pasokan untuk menjaga daya saing di pasar global. Pengembangan ekspor juga akan disesuaikan dengan kemampuan produksi dan kebutuhan pupuk dalam negeri.
"Pupuk Kaltim akan terus mengoptimalkan kapasitas produksi dan menjaga kesiapan distribusi agar makin memberikan kontribusi nyata bagi industri manufaktur serta sektor pertanian Indonesia secara berkelanjutan," kata Andik saat menerima penghargaan dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, peningkatan ekspor perlu diikuti penguatan nilai tambah produk nasional. Menurut dia, daya saing industri menjadi faktor penting untuk memperluas pasar internasional.
“Capaian ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ekspor nasional, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong produk Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional,” kata Bahlil.
Ikuti Whatsapp Channel Republika