Nasional

Putin Siap Bantu Akhiri Konflik AS-Iran, Qatar Minta Rusia Turun Tangan di Hormuz

JAKARTA -- Qatar menggalang dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membantu mengatasi krisis Selat Hormuz yang terus mengganggu pelayaran internasional dan pasokan energi dunia. Upaya diplomatik itu mengemuka ketika Emir...

28 Oktober 2026, pukul 00:52 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Qatar menggalang dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membantu mengatasi krisis Selat Hormuz yang terus mengganggu pelayaran internasional dan pasokan energi dunia. Upaya diplomatik itu mengemuka ketika Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu Putin di Moskow pada Selasa (27/10/2026), sementara Rusia juga mengadakan pembicaraan terpisah dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai ketegangan kawasan dan hubungan kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Putin menyatakan kesiapan Rusia membantu penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui jalur diplomatik. Presiden Rusia itu menggarisbawahi pentingnya menghidupkan kembali kesepahaman yang sebelumnya dicapai Washington dan Teheran melalui mediasi Qatar dan Pakistan, ketika ancaman serangan militer baru masih membayangi kawasan Teluk.

Baca Juga

Anadolu Agency pada Selasa (27/10/2026) melaporkan Putin menyebut Memorandum Islamabad yang disepakati pada Juni 2026 masih relevan sebagai landasan melanjutkan perundingan. Kesepahaman tersebut sebelumnya membuka jalan bagi upaya penghentian permusuhan, pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz, dan pembahasan penyelesaian konflik yang lebih luas.

“Dari pihak kami, kami siap melakukan segala sesuatu yang berada dalam kemampuan kami untuk membantu menyelesaikan persoalan yang rumit dan mendesak ini,” kata Putin dalam pertemuannya dengan Emir Qatar, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.

Pernyataan itu merupakan komitmen diplomatik, bukan pengumuman pengerahan kekuatan militer Rusia ke Selat Hormuz. Hingga pertemuan berakhir, belum diumumkan mekanisme baru yang disepakati Moskow, Doha, dan Teheran untuk menjamin keselamatan kapal-kapal yang melintasi jalur perdagangan strategis tersebut.

Kantor berita resmi Qatar, Qatar News Agency (QNA), mengonfirmasi pertemuan Sheikh Tamim dan Putin berlangsung di Kremlin, Moskow, di sela Konferensi Tingkat Tinggi kedelapan Forum Negara-Negara Pengekspor Gas atau Gas Exporting Countries Forum (GECF). Pembicaraan keduanya mencakup situasi Timur Tengah, stabilitas keamanan regional, rantai pasokan energi, dan perkembangan terbaru di Selat Hormuz.

Sheikh Tamim menyampaikan bahwa ketegangan antara Amerika dan Iran telah berdampak terhadap kawasan Teluk, termasuk keamanan jalur pelayaran dan pasar energi internasional. Emir Qatar juga mengapresiasi peran Rusia dalam mendorong penyelesaian konflik, sembari menekankan perlunya upaya diplomatik untuk mengatasi berbagai krisis regional, termasuk persoalan Palestina dan kondisi kemanusiaan di Gaza.

Pertemuan tersebut mempunyai arti penting karena Qatar merupakan salah satu negara yang terlibat langsung dalam mediasi antara Washington dan Teheran. Rusia, sementara itu, mempunyai hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang erat dengan Iran, tetapi tetap mempertahankan hubungan dengan negara-negara Arab Teluk, termasuk Qatar.

Posisi tersebut memberikan peluang bagi Moskow untuk berperan sebagai pendukung perundingan. Namun, kedekatan Rusia dengan Iran juga berarti keberhasilannya membantu penyelesaian krisis akan bergantung pada kesediaan Teheran dan Washington menerima langkah-langkah yang dapat dilaksanakan bersama.

Rusia Dorong Kesepakatan Lama Dihidupkan Kembali

Langkah Putin bukan inisiatif mendadak yang baru muncul dalam pertemuan dengan Emir Qatar. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya telah menyerukan penyelesaian krisis Selat Hormuz melalui mekanisme diplomatik yang mengacu pada kesepahaman Amerika dan Iran pada Juni 2026.

Ketika menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 26 September, Lavrov menyatakan bahwa Memorandum Islamabad masih dapat digunakan sebagai dasar menghidupkan kembali dialog. Ia menilai perjanjian tersebut menyediakan kerangka yang layak untuk mengatasi kebuntuan, termasuk persoalan keamanan pelayaran dan penghentian permusuhan.

Sikap tersebut kembali ditegaskan Lavrov setelah menghadiri pertemuan dialog strategis Rusia dan Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC di Bahrain pada 18 Oktober. Dalam kesempatan itu, Rusia mendorong pelaksanaan kesepahaman yang telah dicapai Amerika dan Iran, sekaligus menawarkan pendekatan keamanan regional yang lebih luas.

Sehari kemudian, Lavrov mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran. Kedua pihak membahas perang yang melibatkan Amerika, Israel, dan Iran, serta kebutuhan mengembalikan keamanan kawasan Teluk dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.

Dalam pernyataan setelah pertemuan tersebut, Lavrov menegaskan Rusia siap membantu menemukan penyelesaian melalui perundingan yang dapat diterima seluruh pihak. Moskow juga menginginkan jaminan keamanan agar konflik bersenjata tidak kembali mengganggu kawasan serta jalur pelayaran yang menjadi bagian penting perdagangan energi dunia.

Dengan demikian, langkah nyata yang sejauh ini dipersiapkan Rusia berpusat pada dukungan terhadap mediasi, pengaktifan kembali kerangka perundingan yang sudah ada, dan koordinasi politik dengan Iran serta negara-negara Teluk. Belum terdapat pengumuman bahwa Rusia akan mengirim armada untuk mengawal kapal dagang atau mengambil alih pengamanan Selat Hormuz.

Presiden Iran Temui Putin, Apa yang Disiapkan Teheran?

Pada hari yang sama dengan pertemuan Putin dan Emir Qatar, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga bertemu pemimpin Rusia tersebut di Moskow. Pembicaraan berlangsung secara terpisah dalam rangkaian KTT GECF, mempertemukan tiga negara produsen gas utama yang berkepentingan terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Putin mengatakan perkembangan keamanan kawasan menjadi perhatian serius Rusia karena Moskow mempunyai hubungan kerja sama yang luas dengan Teheran. Ia juga menegaskan bahwa Rusia tetap memenuhi kewajibannya dalam berbagai proyek bersama Iran, termasuk pembangunan fasilitas nuklir Bushehr.

Menurut Anadolu Agency, Putin menyebut perdagangan bilateral Rusia dan Iran meningkat 10,4 persen selama delapan bulan pertama 2026. Angka tersebut disampaikan untuk menggambarkan hubungan ekonomi kedua negara yang terus berkembang di tengah ketegangan geopolitik dan tekanan sanksi.

Pezeshkian menyampaikan terima kasih atas dukungan politik dan ekonomi Rusia kepada negaranya. Ia juga menyerukan kerja sama lebih erat di antara negara-negara kawasan, dengan pandangan bahwa berbagai masalah keamanan regional dapat diselesaikan tanpa harus selalu bergantung kepada Amerika Serikat.

Presiden Iran itu mengaitkan kebutuhan kerja sama tersebut dengan tindakan militer Amerika di kawasan. Namun, pernyataan Pezeshkian merupakan posisi politik pemerintah Iran dan tidak berarti seluruh negara Teluk menyetujui pendekatan keamanan yang mengesampingkan peran Washington.

Setelah pertemuan, Pezeshkian menyebut kunjungannya ke Moskow menghasilkan pembahasan positif mengenai energi, perdagangan, infrastruktur, keamanan, dan hubungan bilateral. Ia juga menyampaikan keinginan memperluas kerja sama dengan Rusia di bidang industri, ilmu pengetahuan, serta sektor keamanan dan militer.

Meski demikian, laporan resmi yang tersedia tidak memperlihatkan adanya kesepakatan militer baru antara Putin dan Pezeshkian khusus untuk menguasai atau membuka kembali Selat Hormuz. Pembicaraan mengenai keamanan berlangsung dalam konteks hubungan Rusia-Iran yang lebih luas, sedangkan persoalan kebebasan pelayaran tetap menjadi bagian dari negosiasi regional.

Langkah konkret Iran mengenai Selat Hormuz sejauh ini justru berkaitan dengan tawaran pembukaan kembali jalur pelayaran secara bersyarat. Teheran menghendaki Amerika terlebih dahulu menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara Washington menuntut adanya penyelesaian persoalan nuklir sebagai bagian penting dari kesepakatan.

Associated Press pada 24 Oktober melaporkan Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menyatakan Teheran telah menyampaikan kesediaan membuka kembali Selat Hormuz apabila Amerika mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Tawaran itu disampaikan melalui Pakistan sebagai salah satu pihak yang menjembatani perundingan.

Menurut pejabat Iran tersebut, Washington belum menyetujui persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kemungkinan pemulihan pelayaran masih bergantung pada penyelesaian sengketa mengenai blokade, sanksi, dan jaminan keamanan.

Reuters pada 12 Oktober juga melaporkan Iran sedang menelaah tanggapan Amerika atas proposal yang disampaikan Teheran pada September. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan komunikasi melalui para mediator terus berlangsung, tetapi perbedaan pandangan mengenai urutan penyelesaian persoalan belum berhasil diatasi.

Amerika menghendaki program nuklir Iran dibahas sejak awal perundingan. Sebaliknya, Iran menginginkan pembicaraan mula-mula difokuskan pada pemulihan keamanan Selat Hormuz dan pengakhiran blokade, sebelum memasuki persoalan lainnya.

Perbedaan urutan tersebut menjadi salah satu hambatan utama diplomasi. Kesepakatan mengenai pembukaan selat belum tentu dapat segera dilaksanakan apabila Washington dan Teheran tetap berbeda pandangan tentang jaminan keamanan, aktivitas nuklir, dan pencabutan pembatasan ekonomi.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait