REPUBLIKA.CO.ID, MADRID— Raja Spanyol Felipe VI bersama istrinya, Ratu Letizia, mengunjungi kota Ceuta pada Selasa (13/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, mereka singgah di pemakaman Muslim tempat sejumlah besar korban dari sekitar 100 migran yang meninggal dalam gelombang penyeberangan massal dari Maroko pada Juli lalu dimakamkan.
Baca Juga- Bagaimana China Manfaatkan Perang Iran dan Terkurasnya Kekuatan Militer Amerika Serikat?
- 12 Kisah Singkat Ini Ungkap Cara Umar Bin Khattab Jauhkan Kepentingan Keluarga dari Kekuasaan
- 6 Sifat dan Amalan yang Pelakunya Dijanjikan Surga Oleh Allah SWT, Tetapi dengan Syarat..
Raja dan Ratu berdiri di hadapan deretan makam yang sebagian besar hanya ditandai dengan nomor karena identitas para korban belum berhasil diketahui.
Kunjungan itu turut didampingi para pemimpin agama Islam, Kristen, Yahudi, dan Hindu yang mewakili empat agama yang dianut masyarakat Ceuta, wilayah yang berada di bawah pemerintahan Spanyol.
Sepanjang kunjungan, jalan-jalan di kota yang berpenduduk sekitar 84 ribu jiwa dan memiliki luas kurang dari 20 kilometer persegi itu dipadati ribuan warga. Mereka melambaikan bendera Spanyol untuk menyambut keluarga kerajaan.
Pesan untuk Rabat
Dalam kunjungan tersebut, dilansir Aljazeera, Kamis (15/10/2026), Felipe VI menegaskan bahwa Ceuta dan Melilla merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Spanyol.
Namun, dia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan bertetangga yang baik dengan Rabat, ibu kota Maroko.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika