Nasional

Refleksi Hari Santri 2026: Saat Kecerdasan Buatan Merajai Teknologi, Bagaimana Relasi Santri Kiai?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi teman baru dalam proses belajar santri. Melalui telepon genggam, mereka bisa mencari referensi perkuliahan, menerjemahkan bahasa Arab, merangkum bacaan, hingga...

22 Oktober 2026, pukul 04:48 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi teman baru dalam proses belajar santri.

Melalui telepon genggam, mereka bisa mencari referensi perkuliahan, menerjemahkan bahasa Arab, merangkum bacaan, hingga menelusuri persoalan fikih yang selama ini dipelajari melalui kitab-kitab klasik.

Baca Juga

Teknologi ini menawarkan kemudahan yang sulit diabaikan. Jika dahulu santri harus membuka kamus, membandingkan kitab, atau menunggu kesempatan bertanya kepada ustaz, kini penjelasan awal bisa diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Namun, kemudahan itu menghadirkan pertanyaan mendasar. Ketika mesin semakin pintar menjawab, apakah peran kiai dan ustaz masih diperlukan?

Menurut Ketua Asosiasi Ma'had Aly Indonesia (AMALI), KH Nur Salikin, penggunaan AI di lingkungan pesantren merupakan sesuatu yang wajar. Terlebih, akses terhadap teknologi tersebut semakin mudah, termasuk bagi mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi di Ma'had Aly.

"Saya kira sudah (menggunakan AI), terutama santri yang berada di jenjang pendidikan tinggi pesantren seperti Ma’had Aly. Belum semua, tentu. Tapi memang sekarang AI gampang sekali diakses, cukup dari HP," ujar Kiai Salikin saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (21/10/2026).

Menurut kiai milenial tersebut, AI dapat membantu santri memahami istilah yang sulit, menerjemahkan bahasa Arab, merangkum bacaan, mencari referensi, hingga memetakan persoalan yang akan diteliti.

Dalam kajian fikih, misalnya, AI dapat digunakan untuk mengidentifikasi istilah dan mencari bahan bacaan awal sebelum santri mendalami persoalan melalui kitab-kitab rujukan.

Akan tetapi, kecepatan memperoleh jawaban tidak serta-merta membuat seseorang memahami persoalan secara utuh.

Dalam tradisi keilmuan pesantren, santri tidak hanya dituntut mengetahui suatu pendapat, tetapi juga memahami sumber, dalil, dan metode yang digunakan ulama untuk sampai pada kesimpulan tersebut.

"Teknologi kan memang tidak bisa kita tolak. Hanya saja, cepat dapat jawaban itu belum tentu paham," ucap Kiai Salikin yang juga merupakan Direktur Ma'had Aly Jakarta.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait