REPUBLIKA.CO.ID, SUKOHARJO -- Di tengah deru mesin pabrik yang menawarkan pilihan pekerjaan bagi generasi muda, para penenun di Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah, masih tekun menjaga warisan tenun goyor. Dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), mereka menyelesaikan helai demi helai benang menjadi kain yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Namun, keberlangsungan kerajinan tersebut menghadapi tantangan regenerasi. Sebagian anak muda memilih merantau atau bekerja sebagai buruh pabrik karena dinilai menawarkan penghasilan yang lebih menarik. Sementara itu, penenun menerima upah sekitar Rp55.000 untuk setiap empat meter kain yang dikerjakan selama satu hingga dua hari.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara Foto