REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Republika menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam menangani krisis lingkungan. Pemimpin Redaksi (Pemred) Republika Andi Muhyiddin menilai persoalan lingkungan terlalu besar untuk diselesaikan satu pihak, terlebih ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berulang dan dampaknya mengancam manusia serta satwa liar.
Andi mencontohkan upaya pemulihan lahan kritis yang dilakukan Rosita di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Dengan uangnya sendiri, Rosita mengembangkan lahan yang semula sekitar 2.000 meter persegi menjadi kawasan hutan seluas sekitar 30 hektare setelah merawatnya selama puluhan tahun.
Baca Juga- Wakil Ketua MPR RI Ungkap Tantangan Transisi Energi dari Segi Investasi
- Hiu Tutul Terdampar di Pantai Parangkusumo, Mati Usai Gagal Dievakuasi Kembali ke Laut
- Republika: ESG Jangan Sekadar Jadi Laporan Tahunan Perusahaan
“Padahal kadang-kadang perubahan itu dimulai dari seorang yang melihat sesuatu yang rusak lalu berkata, ‘Saya harus melakukan sesuatu,’” kata Pemred Republika, saat membuka ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Andi, kisah Rosita menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari inisiatif individu, tanpa harus menunggu program besar atau dukungan teknologi canggih. Namun, inisiatif tersebut perlu diperkuat melalui keterlibatan berbagai pihak agar praktik baik dapat berkembang dan memberikan dampak lebih luas.
Dia mengingatkan, persoalan lingkungan yang terus berulang juga terlihat dari karhutla yang masih menjadi ancaman setelah lebih dari satu dekade. Andi mengungkit sampul koran Republika 11 tahun lalu yang menampilkan seorang anak berseragam sekolah mengayuh sepeda di tengah kabut asap di Riau.
Kini, dampak asap kembali mengemuka melalui kisah Sempurna, orang utan jantan dewasa di Ketapang, Kalimantan Barat, yang meninggal pada 30 Agustus lalu. Satwa tersebut sempat mendapat bantuan oksigen dan perawatan, tetapi hasil pemeriksaan menemukan kerusakan paru-paru yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap.
“Kalau 11 tahun berlalu dan kita masih melihat penderitaan yang serupa, mungkin ada sesuatu yang harus kita tanyakan ke diri kita sendiri. Apa yang sebenarnya sudah berubah?” ujar Andi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika