REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menegaskan rencana kerja sama Rusia dan Indonesia dalam pengembangan bandar antariksa di Biak, Papua, masih berada pada tahap pembicaraan awal. Ia sekaligus membantah isu bahwa fasilitas tersebut akan digunakan sebagai pangkalan militer Rusia.
Tolchenov mengatakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengundang dan berdiskusi dengan badan antariksa Rusia, Roscosmos, mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam pengembangan bandar antariksa tersebut.
Baca Juga- Danantara Housing Expo 2026 Siap Dibuka, Hadirkan 130 Tenant dan Rumah Rp380 Juta
- Konektivitas Jalan Nasional di Pulau Flores Pulih Pascagempa Magnitudo 7,7
- P-APBD Sumut 2026 Fokus Infrastruktur dan Pemulihan Pascabencana
“Kami bahkan belum sampai pada tahap awal kerja sama. Pertemuan itu baru sebatas diskusi awal,” kata Tolchenov dalam media briefing di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, hingga kini belum ada satu pun perjanjian kerja sama yang ditandatangani Indonesia dan Rusia terkait proyek tersebut. Tolchenov juga membuka kemungkinan BRIN sedang melakukan penjajakan serupa dengan sejumlah negara lain sebelum menentukan mitra.
Rusia, kata dia, tetap siap mendukung rencana Indonesia membangun bandar antariksa pertamanya. Moskow menawarkan pengalaman dan teknologi keantariksaan yang telah lama dikembangkan melalui Roscosmos.
“Keputusan sepenuhnya ada di tangan BRIN untuk memilih mitra. Namun, jika Roscosmos dan Rusia yang dipilih, kami akan sangat senang dan saya yakin kami mampu mewujudkan proyek ini untuk Indonesia,” ujar Tolchenov.
Bantah Isu Pangkalan Militer
Tolchenov secara khusus membantah isu yang mengaitkan rencana pengembangan bandar antariksa Biak dengan kemungkinan pembangunan pangkalan udara atau fasilitas militer Rusia di Indonesia.
Menurut dia, bandar antariksa tersebut sepenuhnya merupakan fasilitas milik Indonesia. Kerja sama dengan Rusia, apabila nantinya disepakati, tidak berarti memberikan fungsi ganda fasilitas tersebut untuk kepentingan militer negara asing.
Ia menilai Indonesia sebagai negara berdaulat juga tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer negara lain.
“Kalaupun nanti Indonesia menggunakan bandar antariksa itu untuk meluncurkan satelit militer atau fasilitas keantariksaan lainnya, itu adalah keputusan Indonesia,” kata Tolchenov.
Pernyataan tersebut sekaligus membedakan antara pemanfaatan teknologi antariksa untuk kepentingan pertahanan Indonesia dan keberadaan fasilitas militer negara asing. Menurut Tolchenov, keputusan mengenai jenis satelit maupun misi yang kelak diluncurkan dari Biak sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Indonesia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika