Nasional

Semangat Kemandirian yang Dicontohkan Nabi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa-apa yang diperoleh dari keringat sendiri. Beliau juga mengingatkan...

17 Juni 2026, pukul 03:00 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa-apa yang diperoleh dari keringat sendiri. Beliau juga mengingatkan tentang salah satu contoh baik: Nabi Daud AS tidak pernah makan kecuali dari hasil tangannya sendiri (HR Bukhari).

Abdurrahman bin Auf, setibanya di Madinah dalam perjalanan hijrah dari Makkah, ditawari oleh Sa'ad bin Rabi' untuk mengambil separuh dari kekayaannya. Namun, ia tidak segera menerima tawaran itu. Ia hanya meminta agar ditunjuki jalan ke pasar untuk berdagang.

Baca Juga

Seorang Mukmin adalah pribadi yang selalu mandiri, bekerja keras, tidak segera menyerah pada keadaan, dan tidak mudah tergantung kepada orang lain. Baginya, sempitnya lapangan kerja bukan penghalang, melainkan pemicu semangat untuk membuka lahan-lahan baru yang lebih menjanjikan.

Dalam jiwanya terpatri firman Allah SWT, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Untuk membangun kemandirian ini, Rasulullah SAW selalu menegaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (mengemis atau meminta). (HR Bukhari-Muslim).

Pernyataan ini tidak saja Rasulullah sampaikan di atas mimbar, melainkan juga dalam pertemuan secara pribadi dengan sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah riwayat, seperti diceritakan Abu Hurairah, Rasulullah SAW suatu hari menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya hakikat kemiskinan dan kekayaan.

Kata beliau, yang disebut miskin bukan mereka yang tidak punya sesuap atau dua suap makanan, tidak punya sebiji atau dua biji kurma, melainkan mereka yang meminta-minta (HR Bukhari-Muslim).

Adapun yang disebut kaya, masih kata Rasulullah SAW, bukan mereka yang mempunyai harta yang melimpah, melainkan mereka yang puas atas pemberian Allah sekalipun sedikit (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ''Berbahagialah mereka yang masuk Islam. Mereka dikaruniai kemampuan untuk tidak mengemis, dan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.'' (HR Muslim). Auf bin Malik menceritakan bahwa ia --dengan ditemani beberapa orang-- pernah menemui Rasulullah SAW.

      View this post on Instagram      

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Loading... sumber : Hikmah Republika oleh Ustaz Amir Faishol Fath
Lihat di situs asli

Berita terkait