REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang eskalasi konflik dengan Iran. Langkah ini diambil lantaran adanya kekhawatiran bahwa perang yang berkepanjangan dapat menguras stok rudal pencegat (interceptor) milik AS, sebagaimana diungkapkan sejumlah pejabat AS kepada The New York Times, Sabtu(25/7/2026).
Menurut para pejabat tersebut, diskusi di Gedung Putih belakangan ini berfokus pada menipisnya persediaan rudal pencegat AS. Kekhawatiran ini makin menguat terutama setelah tiga prajurit AS tewas di Yordania akibat rudal Iran yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Amerika.
Baca Juga- Kaesang Maju Caleg dari Dapil Puan Maharani, Ganjar: Jateng Kandang Banteng
- Terduga Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok Tangis Anak Bikin Haru
- Keterbatasan Lahan Makam di Jabodetabek Dorong Kebutuhan Pemakaman Muslim yang Tertata
Jenderal AS Dan Caine menyatakan bahwa kembali ke peperangan berskala penuh dengan Iran memang memungkinkan untuk dilakukan. Namun, hal itu akan mengurangi secara drastis jumlah rudal yang tersedia bagi Komando Pusat AS (CENTCOM) di kawasan Timur Tengah.
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menegaskan bahwa Trump konsisten pada sikapnya yang lebih memilih opsi diplomasi. "Tetapi, beliau tetap mempertahankan semua opsi jika Iran terus melanjutkan aktivitas terorisme di Selat Hormuz atau terhadap sekutu kami,"ujar Cheung.
Cheung menambahkan, "Akan sangat bijaksana bagi Iran untuk mengupayakan kesepakatan melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi."
Seorang pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya menilai bahwa kembali digelarnya operasi militer besar-besaran terhadap Iran tidak akan mengarahkan negara tersebut kembali ke meja perundingan. Sementara itu, sumber lain menyebut langkah serangan justru akan memberikan dampak sebaliknya—yakni memberi rezim pimpinan Iran sosok musuh luar untuk dijadikan fokus persatuan nasional.
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
AS masih siapkan serangan militer
Pada Sabtu, sumber yang memahami proses pengambilan keputusan di lingkup Pemerintahan AS menyampaikan kepada The Jerusalem Post bahwa Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai peluncuran serangan skala besar terhadap Iran.
Sebagaimana disampaikan Trump pada Jumat, AS masih melanjutkan pembicaraan diplomatik dengan Teheran sembari menjaga opsi militer dalam kondisi siap tempur.
"Kami sudah bersiap penuh (locked and loaded)," tegas Trump. Ia menambahkan bahwa Washington dapat meningkatkan kampanye militernya ke "tingkat yang jauh lebih tinggi" jika diperlukan, meski opsi utamanya tetaplah kesepakatan hasil negosiasi.
View this post on Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara