REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus kematian akibat serangan jantung mendadak kini tidak hanya dikaitkan dengan kelompok usia lanjut, namun juga mengintai kelompok usia produktif. Keterlambatan penanganan dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal menjadi faktor yang kerap mempersempit peluang keselamatan korban.
Penyakit kardiovaskular hingga masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022. Di Indonesia, penyakit jantung dan strok juga masih menjadi penyebab kematian tertinggi.
Baca Juga- Sering Minum Teh Hijau? Ternyata Ini Waktu Terbaik agar Jantung Tetap Sehat
- Obesitas Tak Sekadar Soal Berat Badan, Risiko Penyakit Jantung Perlu Diwaspadai
- Mengapa Denyut Jantung Naik padahal Kecepatan Lari Tetap? Ini Kata Dokter
Jantung (ilustrasi). - (Dok. Magnific)
Data tahun 2024 dari World Heart Federation menunjukkan sekitar 695.166 kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi di Indonesia pada 2024. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala, faktor risiko, serta penanganan dini penyakit jantung.
Pakar Ilmu Keperawatan sekaligus Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care Ul, Dr Masfuri, mengatakan sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan. Menurutnya, masyarakat sering kali keliru menafsirkan gejala awal sehingga kesempatan memperoleh pertolongan medis menjadi terlambat.
"Sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan, sehingga sering kali pertolongan medisny terlambat," kata dr Masfuri dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (14/10/2026).
Masfuri memaparkan gejala khas serangan jantung yang mendera dapat berupa nyeri dada sebelah kiri yang terasa seperti tertindih beban berat, rasa terbakar di ulu hati yang menjalar hingga ke rahang, bahu, atau lengan, keringat dingin, serta sesak napas yang muncul secara tiba-tiba. Sayangnya, menurut Masfuri, banyak orang menganggap gejala tersebut hanya sebagai masuk angin, gangguan lambung, atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari (burnout). Padahal, penundaan penanganan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar terhadap peluang keselamatan pasien.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika