REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saat para pejabat penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) bergabung dalam sebuah panggilan konferensi pada Selasa (21/10/2026) sore waktu Jakarta, lebih dari 100 peserta yang merupakan para investor, seperti dilaporkan Bloomberg, masih terguncang oleh peringatan mendadak dari penyedia indeks tersebut mengenai potensi penurunan peringkat bagi Indonesia. Mereka mempertanyakan perlunya langkah drastis semacam itu dan ingin mengetahui apakah Indonesia masih memiliki peluang untuk mempertahankan statusnya sebagai pasar berkembang (emerging market).
Menurut pihak-pihak yang mengetahui masalah ini, yang meminta agar identitas mereka tidak diungkap karena membahas informasi yang bersifat pribadi, Managing Director MSCI, Raman Aylur Subramanian, menyatakan dalam panggilan konferensi yang diselenggarakan oleh UBS Group AG tersebut, bahwa kasus Indonesia bukanlah masalah indeks, melainkan masalah pasar. Ia menambahkan, bahwa reformasi diperlukan untuk menyingkirkan "pihak-pihak yang berperilaku buruk (bad actors)".
Baca Juga- Bahlil Pertimbangkan Setop Ekspor Gas ke Negara yang tak Hargai Indonesia
- Francesca Albanese Ajak Indonesia Pimpin Gerakan Boikot Produk Israel
- Umumkan Rudal Baru, Iran akan Gunakan 'Bapak dari Segala Bom' Jika AS-Israel Kembali Menyerang
Pernyataan Subramanian membuat satu hal menjadi jelas, saat Indonesia berkejeran dengan waktu untuk mencegah penurunan dua kali status pasar saham mereka, Indonesia perlu meyakinkan MSCI dan investor global bahwa mereka bisa meregulasi secara efektif pasar sahamnya. Peringatan dari MSCI pada pekan lalu eksplisit bahwa aturan-aturan baru saja tidak cukup untuk membalikkan keadaan.
Dengan sedikit waktu yang dimiliki Indonesia yakni hingga Juni 2027, tantangan bagi para pemegang kebijakan di Indonesia adalah untuk membangun suatu penegakan hukum yang meyakinkan, mengungkap kepemilikan yang tidak transparan, menyelidiki perdagangan yang mencurigakan, serta menjatuhkan sanksi tegas termasuk terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan sejumlah kelompok bisnis paling berpengaruh di negara tersebut.
Lihat postingan ini di InstagramLoading... Ikuti Whatsapp Channel Republika