Nasional

Situ Tunggilis Dipenuhi Eceng Gondok, Mesin Pencacah Ubah Gulma Jadi Pakan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Populasi eceng gondok di Situ Tunggilis, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, sempat menutupi lebih dari 10 hektare perairan hingga mengganggu aktivitas warga. Universitas Budi Luhur bersama...

22 Agustus 2026, pukul 07:15 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Populasi eceng gondok di Situ Tunggilis, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, sempat menutupi lebih dari 10 hektare perairan hingga mengganggu aktivitas warga. Universitas Budi Luhur bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengembangkan mesin pencacah untuk membantu mengatasi gulma sekaligus mengolahnya menjadi bahan bernilai ekonomi.

Mesin tersebut mampu mencacah hingga satu kuintal eceng gondok per jam. Hasil cacahan dapat difermentasi menjadi bahan campuran pakan ternak.

Baca Juga

“Eceng gondok yang telah tercacah halus kemudian dapat lebih mudah diolah lebih lanjut, salah satunya melalui proses fermentasi menjadi bahan campuran pakan ternak,” ujar Selamet Riyadi, salah satu anggota tim pengembang dalam keterangan, Sabtu (22/8/2026).

Eceng gondok menjadi persoalan di Situ Tunggilis setelah populasinya meningkat pesat menjelang akhir 2025. Tanaman tersebut menutupi lebih dari 10 hektare dari luas situ yang mencapai sekitar 35 hektare, sehingga aktivitas wisata perahu terhenti dan berdampak pada pedagang di sekitar situ.

Selama ini, Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Situ Tunggilis mengendalikan eceng gondok secara manual dengan menarik, memotong, dan mengangkutnya dari perairan. Cara tersebut membutuhkan tenaga dan waktu, sementara eceng gondok dapat kembali tumbuh dengan cepat.

Mesin pencacah dikembangkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema BIMA 2025. Tim Universitas Budi Luhur yang terdiri atas Deden Kurniawan, Selamet Riyadi, dan Devit Setiono mengembangkan mesin tersebut bersama warga dengan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Deden mengatakan, desain mesin disesuaikan dengan kondisi lapangan. Motor penggerak menggunakan bensin agar dapat dioperasikan di tepi situ tanpa bergantung pada akses listrik, sedangkan sistem pemasukan eceng gondok menggunakan conveyor horizontal yang dilengkapi pembatas pengaman.

Selamet mengatakan, mesin dapat beroperasi hingga enam jam secara terus-menerus. Pemanfaatan hasil cacahan diharapkan membuat eceng gondok tidak lagi sekadar menjadi gulma yang mengganggu perairan.

Devit mengatakan, teknologi tepat guna tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan warga sehingga persoalan lingkungan dapat ditangani sekaligus memberi manfaat ekonomi.

“Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat seperti inilah, harapannya Situ Tunggilis dapat kembali bernapas,” ujar Devit.

 

Lihat di situs asli

Berita terkait