JAKARTA -- Produktivitas pekerja tidak hanya ditentukan keterampilan dan pengalaman, tetapi juga kemampuan menghadapi tekanan dan perubahan. Studi global Zurich, The Resilient Workforce, menemukan 88 persen pekerja dengan tingkat ketahanan diri tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok dengan tingkat ketahanan diri terendah yang sebesar 44 persen.
Baca Juga- Dapat Fasilitas Kepabeanan, Pelaku Industri Mainan di Jateng Buka Peluang 3.000 Pekerja Lokal
- UMS Gelar Diskusi Legislasi, Kaji RUU Hubungan Pekerjaan Tertentu untuk Perkuat Perlindungan Pekerja
- Kapolres Tawarkan Pekerjaan Korban Selamat Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8
Studi tersebut juga menemukan hubungan antara ketahanan diri dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan. Ketahanan pekerja dipengaruhi sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara mengatakan, perusahaan perlu memperhitungkan kesehatan dan ketahanan karyawan dalam strategi bisnis. Tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan risiko bisnis, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan dan produktivitas tenaga kerja.
Edhi mengatakan, kebutuhan perlindungan tenaga kerja terus berkembang seiring kompleksitas risiko bisnis dan tantangan dalam menjaga kesehatan karyawan. Menurut dia, ketahanan pekerja perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
“Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujar Edhi dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Peneliti dari University of Oxford yang turut mengembangkan studi tersebut bersama Zurich, Prof. Jan-Emmanuel De Neve, menilai kesejahteraan pekerja berkaitan erat dengan produktivitas. Dukungan terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital dapat membantu pekerja menghadapi perubahan di lingkungan kerja.
Jan-Emmanuel menjelaskan, produktivitas selama ini kerap dikaitkan dengan keterampilan, pengalaman, dan insentif. Namun, hasil penelitian menunjukkan pekerja dengan ketahanan diri lebih tinggi cenderung memiliki kinerja lebih baik karena lebih siap menghadapi perubahan.
“Ketika individu memiliki dukungan yang memadai untuk menjaga kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital mereka, mereka cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi organisasi,” kata Jan-Emmanuel.
Aspek kesehatan jangka panjang juga memengaruhi ketahanan tenaga kerja. Meningkatnya jumlah orang yang hidup dengan penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular, berpotensi memengaruhi produktivitas sekaligus meningkatkan biaya kesehatan yang ditanggung individu maupun perusahaan.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Profesor Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan ketahanan diri perlu dibangun melalui kebiasaan menjaga kesehatan sebelum seseorang jatuh sakit.
Tjandra menyarankan penerapan perilaku CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, menerapkan pola makan sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan mengelola stres. Menurut dia, kebiasaan tersebut perlu didukung literasi kesehatan, lingkungan yang kondusif, serta akses layanan kesehatan bermutu.
“Ketahanan diri (resilience) perlu dibangun melalui kesadaran untuk menjaga kesehatan, bukan hanya ketika sakit, tetapi juga saat kondisi tubuh masih sehat,” ujar Tjandra.
Kesehatan mental turut memengaruhi kemampuan pekerja mempertahankan produktivitas. CEO dan Co-Founder Halodoc Jonathan Sudharta menyebut konsultasi terkait gangguan kecemasan di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jonathan mengatakan tekanan psikologis yang tidak dikelola dapat berdampak pada kondisi fisik. Karena itu, masyarakat perlu mengenali kondisi kesehatan diri dan mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan.
“Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kondisi fisik, bahkan tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak nyata bagi tubuh,” kata Jonathan.
Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peringatan 35 tahun Zurich Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, perusahaan memperkenalkan Penghargaan Kesejahteraan Karyawan 2026 untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik pendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
Keterkaitan antara kesehatan dan kinerja membuat program kesejahteraan karyawan semakin relevan dalam pengelolaan sumber daya manusia. Tantangannya adalah memastikan program tersebut tidak berhenti sebagai fasilitas tambahan, tetapi diterapkan melalui kebijakan kerja, akses layanan kesehatan, dan lingkungan kerja yang mendukung ketahanan pekerja.
Ikuti Whatsapp Channel Republika