Nasional

Sudah Masuk Musim Hujan Suhu di Ciayumajakuning Masih 37,2 Derajat, BMKG Ungkap Penyebabnya

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Memasuki pertengahan Oktober 2026, suhu udara di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) masih terasa menyengat. Masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai kondisi tersebut, terutama terhadap ancaman kebakaran...

15 Oktober 2026, pukul 11:27 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Memasuki pertengahan Oktober 2026, suhu udara di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) masih terasa menyengat. Masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai kondisi tersebut, terutama terhadap ancaman kebakaran yang mudah terjadi di musim kemarau yang panas dan kering.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad menjelaskan, pihaknya melakukan pengukuran suhu udara di tiga titik. Yakni, di Kertajati (Majalengka), Jatiwangi (Majalengka) dan Penggung (Cirebon).

Baca Juga

Berdasarkan pengukuran suhu yang dilakukan pada Senin, 12 Oktober 2026, suhu udara maksimum di Kertajati dan Jatiwangi masing-masing mencapai 35,6 C. Sedangkan di Penggung, suhu udara maksimum mencapai 36,1 C.

Meski masih cukup tinggi, angka tersebut telah menunjukkan penurunan dibandingkan sebelumnya. Pada 4 Oktober 2026, BMKG Kertajati mencatat suhu udara maksimum di Jatiwangi mencapai 37,2 C, di Kertajati mencapai 36,2 C dan di Penggung 36,4 C.

“Suhu udara saat ini sudah menurun,” ujar Fuad kepada Republika, Selasa (13/10/2026).

Fuad mengakui, sepanjang September hingga awal Oktober, suhu udara di Wilayah Ciayumajakuning terasa panas. Selain disebabkan puncak musim kemarau, kondisi itu juga dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada di sekitar khatulistiwa.

“Beberapa bulan lalu kita melewati puncak musim kemarau, dan dipengaruhi juga oleh posisi matahari yang berada di sekitar kita, dari khatulistiwa menuju belahan bumi selatan pada periode September - Oktober ini sehingga terasa panas,” terang Fuad.

Namun, lanjut Fuad, memasuki pertengahan Oktober 2026 ini, sebagian besar Wilayah Ciayumajakuning masuk akhir musim kemarau. Setelah itu, wilayah tersebut akan memasuki pancaroba (peralihan) dari musim kemarau ke musim hujan.

“Untuk prakiraan awal musim hujan bervariasi mulai November – Desember. Namun Ciayumajakuning sebagian besar Desember,” kata Fuad.

Fuad menambahkan, meski musim kemarau segera berakhir, ia meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk mengantisipasi risiko karhutla, terutama di wilayah kering dan rawan terbakar, masyarakat dilarang membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah sembarangan karena api mudah membesar. 

Lihat di situs asli

Berita terkait