Nasional

Survei HP Futures: Pelajar Indonesia Utamakan Kreativitas dan Berpikir Kritis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 91 persen pelajar Indonesia khawatir penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan tugas lebih cepat justru membuat mereka kurang memahami materi secara mendalam. Angka ini merupakan yang...

21 Oktober 2026, pukul 08:32 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 91 persen pelajar Indonesia khawatir penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan tugas lebih cepat justru membuat mereka kurang memahami materi secara mendalam. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara lain yang disurvei dalam laporan HP Futures 2026.

Temuan tersebut berdasarkan survei terhadap 6.206 pelajar dari 37 negara, termasuk 2.097 pelajar Indonesia. Laporan yang disusun HP bersama Global Learning Council dan Education Leaders Forum itu juga melibatkan 58 pakar pendidikan, kebijakan publik, dan dunia kerja untuk mengkaji kesiapan generasi muda menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi.

Meski khawatir terhadap dampak AI dalam proses belajar, pelajar Indonesia tetap optimistis terhadap peluang kerja di masa depan. Sebanyak 67 persen responden meyakini AI akan membuka lebih banyak peluang karier daripada menghilangkannya.

Selain itu, 84 persen pelajar merasa mampu menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak. Sebanyak 88 persen juga menilai pendidikan yang mereka terima telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.

Laporan tersebut turut menemukan bahwa pelajar Indonesia masih mengandalkan metode konvensional untuk mengingat materi pelajaran. Sebanyak 52 persen responden memilih metode yang melibatkan cetak atau tulisan tangan, sedangkan hanya 17 persen yang menjadikan ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.

Dalam menghadapi dunia kerja masa depan, pelajar Indonesia menilai kreativitas dan kemampuan berpikir kritis lebih penting daripada keterampilan teknis tertentu. Kreativitas menempati urutan pertama dengan 67 persen, diikuti kemampuan berpikir kritis sebesar 63 persen, serta komunikasi dan kolaborasi sebesar 58 persen. Sementara itu, literasi AI dan digital dipilih oleh 40 persen responden.

Survei HP Futures dilaksanakan secara daring pada Mei hingga Juni 2026. - (Dok. HOHP)

Chief Commercial Officer HP sekaligus Ketua HP Futures, David McQuarrie, mengatakan pendidik, pembuat kebijakan, dan dunia usaha memiliki tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi peluang dan tantangan di masa depan.

Menurut dia, sistem pendidikan perlu membantu pelajar mengembangkan dan mengasah keterampilan yang tetap relevan di tengah perubahan teknologi.

Senada dengan itu, Director & Global Head of Education Business and Strategy HP, Mayank Dhingra, menilai kekhawatiran pelajar Indonesia terhadap pemahaman materi perlu menjadi perhatian dalam pengembangan kurikulum dan sistem penilaian pendidikan.

Laporan HP Futures 2026 merekomendasikan agar keterampilan seperti kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi menjadi bagian inti pendidikan, bukan sekadar kegiatan tambahan. Literasi, numerasi, serta pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa juga perlu tetap menjadi fondasi pendidikan.

Selain itu, laporan tersebut mendorong penerapan metode pembelajaran kreatif dan praktik langsung agar pelajar tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami materi secara mendalam dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Survei HP Futures dilaksanakan secara daring pada Mei hingga Juni 2026. Sebanyak 88 persen responden berusia 12–17 tahun. Laporan lengkap dapat diakses melalui situs hpfutures(dot)com.

Lihat di situs asli

Berita terkait