REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara asal Amerika Serikat James Gray meyakini kecerdasan buatan (Al) tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan kreatif seorang sineas. Menurut dia, teknologi tersebut tidak bisa menghadirkan identitas artistik yang membuat karya seorang sutradara mudah dikenali.
Dalam wawancara bersama Variety menjelang penerimaan penghargaan Pardo alla Carriera di Festival Film Locarno, Gray mengatakan keunikan seorang pembuat film tercermin dari cara mereka membangun adegan, mengatur kamera, hingga menentukan ritme penceritaan. la mencontohkan bagaimana film-film karya John Ford maupun Alfred Hitchcock dapat dikenali hanya dari penempatan kamera dan tempo adegannya. Menurut Gray, karakter artistik semacam itu tidak akan bisa ditiru oleh Al.
Baca Juga- Angkat Isu Kekerasan Anak, Film Memburu Pemangsa Bawa Misi Sosial Penting
- Film Spider-Man: Brand New Day Raup Hampir Rp18 Triliun Hanya dalam Enam Hari
- Sophia Katseye Hiatus demi Menjaga Kesehatan Mental
"Itulah sebabnya Al tidak ada gunanya. Al tidak akan pernah mampu melakukan hai seperti itu," kata Gray dilansir laman Variety, baru-baru ini.
Sutradara Ad Astra tersebut juga menilai perkembangan Al justru membuat publik semakin menghargai karya yang autentik. Menurut Gray, kemunculan Al telah mendorong banyak orang terutama generasi muda, untuk mencari karya yang terasa jujur dan lahir dari ekspresi kreativitas manusia.
"Al justru membuat orang semakin memahami apa arti autentik. Anak-anak muda sekarang benar-benar haus akan karya yang menarik dan jujur, yang tidak terasa direkayasa hanya untuk menghasilkan banyak uang," ujar Gray.
la pun mengaku optimistis terhadap masa depan perfilman dibandingkan beberapa tahun lalu. la melihat kebingungan yang sedang dialami studio-studio besar dalam menghadapi perubahan industri justru dapat membuka ruang bagi karya-karya yang lebih berani dan berbeda.
"Studio-studio film sedang kebingungan. Saat mereka bingung dan muncul generasi baru, terkadang hal-hal unik justru berhasil lolos dan mendapat tempat. Dan itu hal yang bagus," kata dia.
Gray juga menilai budaya sinefil tengah berkembang pesat. la mencontohkan banyaknya anak muda yang kini memenuhi bioskop repertori untuk menonton film-film klasik. Pengalaman itu, kata Gray, sangat berbeda dibandingkan ketika ia masih muda, saat pemutaran film klasik sering kali berlangsung di ruang bioskop yang hampir kosong.
"Dulu waktu saya masih muda, bioskop semacam itu sepi pengunjung. Hanya ada saya dan tiga tunawisma yang duduk di barisan depan. Saat ini, budaya pencinta film benar-benar sedang berkembang pesat," kata dia.
Selain Gray, sutradara kondang seperti Chritopher Nolan dan Guillermo del Toro secara tegas menolak Al di industri film. Pada Juli lalu, Nolan menegaskan bahwa anggapan kecerdasan buatan (Al) akan menggantikan manusia dan kreativitas di industri film adalah suatu omong kosong. Meski Al akan menjadi alat yang berguna di masa depan, Nolan percaya teknologi itu tidak akan mampu menggantikan kreativitas manusia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika