Oleh Tim Penyuluh Kementerian Pertanian: Dedi Nursyamsi, Edi Puspito, dan Ani Susilowati
Kemandirian pangan bukan hanya sekadar kemampuan memproduksi pangan secara mandiri. Lebih dari itu, ia merupakan bagian penting dari ketahanan nasional dan menjadi fondasi utama bagi kedaulatan nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak mau didikte oleh kekuatan tertentu.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam KTT ke-18 BRICS 2026 di New Delhi, India. Saat itu, Presiden menekankan pentingnya memperkuat ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menuju kemandirian nasional. Menurutnya, ketahanan nasional harus diawali dari ketahanan pangan, ketahanan pangan diawali kemandirian pangan, dan kemandirian pangan diawali swasembada pangan.
Peningkatan produksi
Kemandirian pangan berarti kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan pangannya tanpa ketergantungan pada pihak lain. Swasembada pangan yaitu bila kebutuhan pangan dipenuhi oleh keringat sendiri dan dari lahan sendiri alias diproduksi dalam negeri. Selanjutnya, produksi pangan nasional tidak hanya berbicara produksi, tetapi juga mengenai kemampuan sistem pertanian dalam menyediakan pangan bagi masyarakat.
Sejak 2025, Indonesia telah mencapai swasembada pangan (beras dan jagung) dan pada 2026 pemerintah tetap menargetkan keberlanjutan kondisi tersebut meskipun menghadapi El Niño. Berdasarkan data Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 8 dari 11 komoditas strategis (beras, jagung pakan, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah) telah mencapai swasembada, sedangkan 3 komoditas lainnya (kedelai, bawang putih, dan daging sapi) hingga kini masih terus didorong peningkatan produksinya untuk mengurangi impor.
Pencapaian swasembada pangan tidak terlepas dari berbagai kebijakan dan program yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani. Sejak 2023, pemerintah telah melakukan sejumlah terobosan, antara lain: perbaikan pengelolaan pupuk subsidi (penyederhanaan regulasi dan penurunan harga 20%), distribusi benih, irigasi pompanisasi, optimasi lahan, brigade pangan, cetak sawah rakyat, kenaikan harga pembelian pemerintah atas gabah (Rp 6.000,- menjadi Rp 6.500,-) dan jagung (Rp. 5.000,- menjadi Rp. 5.500,-), serap gabah, dan pemberdayaan penyuluh pertanian.
Kebijakan tersebut telah membuahkan hasil yang memuaskan, yaitu produksi beras tahun 2025 mencapai 34,7 juta ton, meningkat sekitar 13 persen atau sekitar 4.2 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ini utamanya disebabkan karena peningkatan luas panen dari 10.05 juta ha (2024) menjadi 11.32 juta ha (2025) atau naik sekitar 1.27 juta ha (12.69%).
PM-AAS
Selain peningkatan luas panen, peningkatan produksi padi juga bisa dilakukan melalui peningkatan produktivitas. Sejak awal 2026, Kementan membangun Pertanian Modern Agricultural Advanced System (PM-AAS) yang digagas oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Sistem ini mengedepankan cara budidaya tanam benih langsung (tabela) yang rapat di bagian baris dan renggang di bagian kolom, serta menggunakan teknologi pertanian moderen (smart farming). Cara tabela memerlukan kondisi air macak-macak (tidak kering dan tidak tergenang). Pertanian moderennya antara lain: pemanfaatan alsintan pra dan pasca panen (traktor, transplanter, harvester, drone), produk bioscience (variaetas berpotensi hasil tinggi, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan lain-lain), serta internet of thing (IoT).
Tabela dapat menyebabkan populasi tanaman sangat padat, bahkan bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan cara konvensional. Kebutuhan benih PM-AAS sekitar 70 kg/ha jauh lebih tinggi dibandingkan kebutuhan benih cara konvensional (20-25 kg/ha). Karena tanamnya di permukaan tanah, maka sistem ini memerlukan benih, selain berpotensi hasil tinggi juga tahan rebah. Bahkan dianjurkan menggunakan pupuk silika (Si) agar tanaman kokoh dan kuat sehingga tahan rebah dan tahan serangan OPT. Selain itu kebutuhan pupuknya juga meningkat sekitar 1.5 kali dosis rekomendasi biasa (kompos 2 t/ha, NPK 400 kg/ha, dan urea 300 kg/ha).
Demplot yang dikembangkan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) di 34 propinsi menunjukan bahwa produktivitas padi mencapai lebih dari 10 t/ha, bahkan ada lokasi yang mencapai 15 t/ha. Peningkatan jumlah populasi tanaman dan optimalisasi faktor tumbuh lainnya berhasil meningkatkan produktivitas padi berlipat-lipat. Cara ini mirip sistem tanam jagung zig-zag (populasi dua kali lipat, batuan fosfat 1 t/ha, kompos 1 t/ha, dan varietas hibrida) pada tanah masam menghasilkan jagung pipilan kering lebih 20 t/ha.
Tantangan perubahan iklim
Di balik peningkatan produksi, sektor pertanian menghadapi tantangan yang sangat berat dan semakin kompleks, yaitu perubahan iklim (PI) berupa iklim ekstrim El Niño (kering) dan La Niña (basah), serta serangan OPT masif. Saat El Niño, curah hujan turun signifikan sehingga risiko kekeringan meningkat. Sebaliknya saat La Niña, curah hujan naik signifikan bahkan banjir sehingga risiko terendam meningkat, selain risiko serangan OPT juga meningkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pertanian karena ketersediaan air dan serangan OPT masif merupakan faktor utama penentu keberhasilan produksi.
Dengan demikian, maka strategi peningkatan produksi dalam kondisi PI perlu terobosan yang tepat dan cepat. Strateginya tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengungkit produksi, tapi perlu pendekatan mitigatif dan adaptif terhadap kondisi iklim yang sulit diprediksi. Cara mitigatif merupakan pencegahan atau pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), sedangkan cara adaptif merupakan adaptasi terhadap kondisi cekaman biotik (serangan OPT) dan cekaman abiotik (kekeringan, kebanjiran, kemasaman dan salinitas tanah). Pendekatan kombinasi mitigatif dan adaftif seperti pertanian cerdas iklim (climate smart agriculture atau CSA) terbukti sangat handal.
Climate smart agriculture
Akhirnya umat manusia harus mampu mencegah atau mengurangi risiko serta mampu beradaptasi terhadap kondisi dampak PI. Pendekatan CSA yang dikembangkan untuk petani antara lain sekolah lapang iklim (SLI). SLI memberikan pemahaman kepada petani mengenai aktivitas mitigasi dan antisipasi terhadap PI, termasuk bagaimana menghadapi El Niño, La Niña, serangan OPT, salinitas, dan lain-lain.
Dalam kondisi kekeringan (El Niño), ketersediaan air irigasi sangat terbatas sehingga air harus dikelola seefisien mungkin. Selain itu kita harus mencari sumber pengairan alternatif seperti air permukaan (air sungai, embung, long storage). Air yang tersedia perlu disalurkan ke lahan dengan sistem yang mampu meminimalkan kehilangan air, misal pipanisasi. Pada tingkat lahan, penggunaan irigasi macak-macak atau berselang (alternate wetting and drying), irigasi tetes dan sprinkler menjadi bagian penting dari strategi efisiensi air. Selain itu, di daerah sekitar akar (rhizosfer), kondisi tanah harus dipertahankan lembab (konservasi air), misal dengan penggunaan kompos dan biochar.
Demikian pula berbagai metodologi mitigatif dan adaptif terhadap PI lainnya harus terus dikembangkan dan diimplementasikan di lapangan. Misalnya teknologi varietas padi: ada varietas rendah emisi, tahan kekeringan, rendaman, salinitas tinggi, masam, toleran terhadap penggerek batang, busuk leher, kresek, dan lain-lain. Lalu ada pula teknologi pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, hayati, dan pembenah tanah, pengendalian OPT secara terpadu, sistem surjan di lahan rawa, pemanfaatan alsintan, IoT, dan lain-lain
Ikuti Whatsapp Channel Republika