Nasional

Tabungan 1.000 Hari Dividen Seumur Hidup, Masa Depan Indonesia Bergantung pada Gizi Ibu dan Anak

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Michael Susanto (Head of Early Childhood Education Center (ECED) Tanoto Foundation) Masa depan Indonesia tidak ditentukan besok, melainkan hari ini. Masa depan itu itu ditentukan oleh satu jendela...

19 Agustus 2026, pukul 07:08 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Michael Susanto (Head of Early Childhood Education Center (ECED) Tanoto Foundation)

Masa depan Indonesia tidak ditentukan besok, melainkan hari ini. Masa depan itu itu ditentukan oleh satu jendela waktu yang sangat sempit, namun dampaknya berlangsung seumur hidup: 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun.

Inilah jendela emas yang menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak seumur hidup. Kekurangan gizi pada fase ini menimbulkan dampak permanen: menurunkan produktivitas, menghambat pencapaian pendidikan, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular di masa dewasa.

Indonesia telah mencapai tonggak bersejarah dengan menurunkan prevalensi stunting dari 37,2 persen (2013) menjadi 19,8 persen (2024), di bawah batas kritis WHO sebesar 20 persen. Pencapaian ini membuktikan komitmen politik yang kuat melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting dan Perpres 72/2021. Namun, tantangan baru muncul: dengan target penurunan stunting di bawah 10 persen pada pemerintahan Prabowo-Gibran, Indonesia menghadapi pergeseran dari kelangkaan pangan menjadi krisis kualitas diet dan perilaku pemberian makan yang buruk.

Kesenjangan Kritis: Jendela 6-24 Bulan

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mengungkap fakta mengkhawatirkan: lonjakan prevalensi stunting paling tajam terjadi antara usia 6-18 bulan. Ini mengindikasikan kegagalan sistemik dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), khususnya dalam penyediaan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang memadai, beragam, dan sesuai usia.

Akar masalah dimulai bahkan sebelum kelahiran. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mengungkapkan bahwa secara nasional, 17 persen ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis dan 28 persen mengalami anemia, mengakibatkan 15,9 persen bayi lahir dengan berat badan rendah. Ditambah dengan meluasnya konsumsi makanan ultra-processed dan keragaman pangan yang suboptimal, banyak anak Indonesia kekurangan mikronutrien esensial meskipun asupan kalorinya tercukupi, sebuah paradoks gizi yang mengancam generasi mendatang.

Hal ini juga terus menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Dalam upaya untuk menurunkan prevalensi stunting, pemerintah menerapkan berbagai program, seperti: Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S), Pemberian Makanan Tambahan untuk anak usia 6-26 bulan, dan Suplemen Tablet Penambah Darah untuk remaja putri, Program Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan program-program lainnya.

Program-program ini senada dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto khususnya dalam poin ke-4 terkait misi 'Memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)'.

Kini, tantangan yang ada adalah memastikan kesinambungan, kualitas pelaksanaan, dan dampak nyata dari program-program tersebut, terutama pada fase paling krusial dalam 1.000 HPK. Pada titik ini, kemitraan yang saling melengkapi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan seperti pihak swasta, filantropi, organisasi masyarakat, institusi pendidikan, hingga lembaga pembangunan internasional menjadi pengungkit penting untuk mempercepat capaian nasional, memperluas jangkauan, dan memastikan setiap anak Indonesia memperoleh awal kehidupan yang optimal.

Kemitraan yang berkelanjutan untuk Transformasi Status Gizi

Menyadari urgensi ini, Tanoto Foundation bersama pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memantapkan program kerja terkait pemenuhan gizi ibu dan anak, belajar dari pengalaman berbagai portofolio penurunan stunting Tanoto Foundation, termasuk kemitraan dengan UNICEF dan organisasi masyarakat sipil seperti Fatayat NU dan mitra lokal.

Sejak 2019, program percepatan pencegahan dan penurunan stunting yang dilaksanakan Tanoto Foundation melalui berbagai kemitraan strategis telah mendukung transformasi regulasi dan meningkatnya komitmen pemerintah nasional sampai ke desa di lebih dari 14 provinsi dan mencakup lebih 1.3 juta anak berisiko stunting, dan menjangkau 40 persen populasi balita nasional. Program ini menjangkau ratusan ribu keluarga dan puluhan ribu kader kesehatan melalui tiga strategi inti:

Penguatan Implementasi Kebijakan: Mendukung penguatan regulasi nasional melalui bantuan teknis kepada pemerintah daerah dalam menetapkan dan melaksanakan strategi perubahan perilaku dan konvergensi.

Peningkatan Kualitas Layanan: Melatih petugas kesehatan dan kader Posyandu dalam konseling nutrisi ibu dan anak yang sesuai kebutuhan dan mendukung pencegahan malnutrisi.

Penguatan Program berbasis data: Meningkatkan ketersedian data, kesadaran akan program berbasis data, dan kapabilitas pemerintah daerah dalam melakukan monitoring pelaksanaan program dan layanan terkait pencegahan stunting. Program INEY yang dilaksanakan bersama kemitraan dengan Bank Dunia juga mendukung perencaan desa berbasis data dengan platform eHDW yang menjangkau lebih dari 60 persen desa di seluruh Indonesia.

Pendekatan portofolio ini menunjukkan pembelajaran yang dapat dipetik untuk menajamkan strategi nasional percepatan pencegahan dan penurunan stunting ke depannya, yaitu pendekatan yang holistik: dari kebijakan hingga implementasi lapangan, dari penguatan sistem hingga pemberdayaan komunitas.

Momentum Kolektif: ECED Council dan Jalan ke Depan

Komitmen multi-pihak semakin menguat. Tanoto Foundation bersama pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan pendidikan anak telah membangun Early Childhood Education Center (ECED) Council Indonesia pada tahun 2024. Kemudian, pada akhir tahun 2025, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dan Tanoto Foundation juga telah menyelenggarakan International Symposium on Early Childhood Education and Development (ECED) 2025 yang ketiga. Forum ini menjadi wadah strategis untuk membangun konsensus dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

Indonesia berada di titik balik kritis menuju target stunting 14,2 persen pada 2029 dan visi Indonesia Emas 2045 sebesar 5 persen. Mencapai target ini menuntut akselerasi dengan fokus tak tergoyahkan pada jendela 6-24 bulan. Beberapa langkah krusial harus dijalankan:

Pertama, memastikan berbagai intervensi pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan balita non-prasekolah saling melengkapi melalui penargetan yang lebih tepat, dengan menjadikan konseling PMBA sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pemberian makanan di setiap titik layanan kesehatan.

Kedua, penajaman regulasi untuk secara aktif menegakkan standar pemasaran dan komposisi makanan untuk ibu hamil dan anak usia dini, mendorong reformulasi produk mengurangi gula, garam, dan lemak tidak sehat.

Ketiga, penguatan penelitian ilmu perilaku untuk memahami hambatan pengasuh dalam mengadopsi praktik pemberian makan yang direkomendasikan.

Panggilan Aksi Kolaborasi

Pemerintah tidak dapat mencapai transformasi ini sendirian. Ini adalah panggilan untuk bertindak bagi seluruh ekosistem: pemerintah pusat dan daerah, perkuat konvergensi multi-sektor dan pastikan alokasi anggaran tepat sasaran pada jendela 1.000 hari. 

Aktor non-negara, mulai dari yayasan korporat dan perusahaan swasta hingga masyarakat sipil harus meningkatkan keterlibatan dengan mandat baru: peningkatan fokus penelitian dan upaya lapangan pada ilmu perilaku.

Akademisi dan peneliti, dalami ilmu perilaku gizi dan kembangkan solusi inovatif berbasis bukti. Korporasi, pandang gizi bukan sebagai CSR, tetapi investasi strategis modal manusia, dukung sistem pangan lokal, pastikan ketersediaan bahan bergizi terjangkau, dan patuhi Kode Pemasaran Makanan Pengganti ASI. Media dan influencer, jadilah juara keragaman diet dengan memperkuat norma gizi positif di platform digital.

Dalam kebijaksanaan leluhur, kekuatan sejati sebuah bangsa bukan pada emas atau bala tentara, melainkan pada ketahanan rakyatnya. Seorang ibu yang sehat adalah benteng terkuat. Seorang anak yang cerdas adalah aset paling berharga. Jendela 1.000 Hari adalah dividen demografi Indonesia dalam embrio.

Dengan menyelaraskan sumber daya dan komitmen bersama, kita dapat memastikan setiap anak Indonesia lahir dengan kesehatan, kecerdasan, dan daya saing untuk memimpin Indonesia menuju masa depan sejahtera. Keberhasilan di sini bukan sekadar hasil kesehatan, ini adalah takdir ekonomi bangsa yang sesungguhnya. Mari kita bergerak bersama, mulai hari ini. 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait