REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Kami akan mengambil langkah balasan secara tegas." Peringatan keras itu dilontarkan Beijing setelah Taiwan membuka sebuah situs khusus yang memungkinkan warga China mengirimkan informasi intelijen secara rahasia kepada otoritas Taiwan. Mengapa langkah yang tampak sederhana ini membuat China begitu geram?
Pemerintah China beberapa hari lalu menuduh Taiwan menjalankan operasi "pencurian intelijen, infiltrasi, dan sabotase" yang dinilai memperkeruh hubungan di Selat Taiwan. Namun, apa sebenarnya yang dilakukan Taipei?
Baca Juga- AI China Ini Dituding Bantu Militer dan Intelijen Xi Jinping, Mengapa Trump Menahannya?
- Saat Perusahaan Banyak PHK, AI China Justru Buka Lapangan Pekerjaan
- Profil Gurun Taklimakan yang Gersang-Tandus, Kini Disulap China Jadi Penyedot Karbon
Jawabannya ada pada sebuah situs web yang diluncurkan Biro Keamanan Nasional Taiwan pada Ahad lalu. Situs itu dirancang sebagai saluran aman bagi warga China yang ingin memberikan informasi kepada Taiwan.
Menurut otoritas Taiwan, jumlah warga China yang merasa tidak puas terhadap sistem di negaranya dan menginginkan perubahan terus bertambah. Jika benar demikian, seberapa besar ancaman yang dilihat Beijing?
Juru bicara Kantor Urusan Taiwan China, Chen Binhua, tidak menyembunyikan kemarahannya. "Hal ini sepenuhnya mengungkap sikap pro-kemerdekaan Taiwan mereka, keras kepala mereka, pola pikir konfrontatif mereka, dan penolakan mereka untuk mengubah arah," kata Chen dalam konferensi pers di Beijing.
Pernyataan itu bukan sekadar kritik politik. Chen memperingatkan bahwa siapa pun yang memberikan informasi intelijen kepada badan keamanan Taiwan dan terbukti melanggar hukum dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.
Dengan kata lain, warga China yang terlibat berisiko menghadapi konsekuensi hukum. Lalu, apakah situs itu benar-benar dapat diakses dari daratan China?
Di sinilah situasinya menjadi menarik. Situs tersebut diblokir oleh pemerintah China. Namun jutaan warga China diketahui menggunakan VPN untuk menembus pembatasan internet dan mengakses platform asing yang juga diblokir, mulai dari media sosial Barat hingga mesin pencari global. Jika akses tetap bisa dilakukan, seberapa efektif pemblokiran itu?
Taiwan berdalih program tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa. Taipei menyebut mekanisme serupa telah lama digunakan oleh badan-badan intelijen di Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.
Bagi Taiwan, situs itu hanyalah sarana pelaporan yang aman. Namun Beijing melihatnya sebagai tindakan yang jauh lebih serius. Mengapa persepsinya begitu berbeda?
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika