Nasional

Tak Peduli Mata

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Coba bayangkan seorang anak kelas 1 duduk di bangku paling belakang. Matanya menyipit, kepalanya sedikit maju, dan tangannya sesekali mengucek mata. Di depan kelas,...

15 Oktober 2026, pukul 04:22 WIB · dibaca 2 kali

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Coba bayangkan seorang anak kelas 1 duduk di bangku paling belakang. Matanya menyipit, kepalanya sedikit maju, dan tangannya sesekali mengucek mata.

Di depan kelas, guru terus menulis di papan tulis. Teman-teman si anak sibuk mencatat, sementara ia sendiri berusaha menerka-nerka huruf yang tampak seperti barisan semut.

Sepulang sekolah, ibunya bertanya mengapa nilai ulangannya turun. Ayahnya menyarankan agar ia mengurangi bermain gawai. Sang anak mengangguk. Tak seorang pun bertanya apakah ia masih bisa melihat tulisan di papan dengan jelas.

Kisah seperti ini mungkin terjadi di banyak keluarga. Kita begitu sibuk memikirkan mutu pendidikan anak sampai lupa pada alat paling mendasar untuk menyerap pelajaran: mata. Bahkan tak jarang, kita sendiri pun tak peduli pada harta kekayaan terbesar kita yang satu ini.

Dunia memperingati Hari Penglihatan Sedunia pada 8 Oktober 2026. Pekan-pekan ini kampanye Love Your Eyes mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mata. Pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan organisasi masyarakat menggelar pemeriksaan, edukasi, serta kegiatan sosial.

Namun, kepedulian paling menentukan sering kali tak membutuhkan panggung, spanduk, atau pidato. Ia cukup dimulai dari perhatian seorang ibu dan ayah ketika anak mereka menyipitkan mata atau menggosok-gosok mata. Mulailah dari peduli pada mata sendiri, pasti akan peduli pada mata keluarga.

Data Kementerian Kesehatan memberi alasan kuat untuk berhenti menganggap persoalan ini sepele. Dalam pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah sepanjang 1 Januari hingga 2 September 2026, sebanyak 288.408 dari 9.241.377 peserta menunjukkan hasil pemeriksaan tajam penglihatan di bawah 6/9. Proporsinya mencapai 3,12 persen.

Angka itu memang berasal dari skrining awal, sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan jenis gangguan yang dialami setiap anak. Namun, bayangkan sebuah sekolah dengan seribu murid. Jika proporsi tersebut berlaku, sekitar 31 anak mungkin membutuhkan perhatian lebih terhadap penglihatannya.

Bagi orang dewasa, tulisan di papan kelas mungkin tampak jelas dari kejauhan. Bagi anak yang mengalami rabun jauh, tulisan itu bisa berubah menjadi kabut tipis. Ia tak selalu tahu bahwa matanya bermasalah. Ia hanya tahu bahwa teman di sebelahnya dapat menyalin pelajaran lebih cepat, sedangkan dirinya tertinggal.

Kelainan refraksi, termasuk rabun jauh dan astigmatisme atau mata silinder, dapat mengganggu kegiatan belajar. Kacamata dengan ukuran yang sesuai sering membantu anak melihat lebih jelas. Karena itu, guru perlu peka terhadap murid yang kerap menyipitkan mata, mendekatkan buku ke wajah, atau kesulitan membaca tulisan dari kejauhan.

Sayangnya, kita lebih cepat mengoreksi perilaku anak daripada mencari penyebabnya. Anak kurang konsentrasi, kita marahi. Nilainya turun, kita tambah jam les. Ia mendekati layar, kita menyalahkan gawai. Semua tindakan itu mungkin terasa masuk akal, tapi menjadi sia-sia jika anak ternyata kesulitan melihat.

Pendidikan membutuhkan buku, guru, dan ruang kelas. Namun, semua itu kehilangan sebagian manfaatnya ketika anak tak mampu melihat apa yang harus ia pelajari.

Orangtua pun sering memperlakukan mata sendiri dengan cara serupa: menunda sampai gangguan tak bisa lagi diabaikan.

Tulisan kecil mulai kabur, kita menjauhkan ponsel. Saat membaca menu restoran, kita mencari cahaya yang lebih terang. Ketika berkendara malam hari, lampu kendaraan dari arah berlawanan terasa menyilaukan. Kita menertawakan diri sendiri, seolah-olah pertambahan usia otomatis membebaskan kita dari kewajiban memeriksa kesehatan.

Padahal, perubahan penglihatan memerlukan perhatian, terutama pada usia lanjut. Salah satu masalah yang perlu diwaspadai ialah katarak, yakni kekeruhan lensa mata yang membuat penglihatan berangsur kabur.

Data CKG pada periode yang sama mencatat 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas masuk kategori curiga katarak, dari 13.618.207 peserta yang menjalani skrining. Angkanya setara dengan 2,59 persen. Sekali lagi, hasil tersebut menunjukkan kecurigaan yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan, bukan diagnosis pasti.

Katarak dapat menghambat kegiatan sederhana: membaca koran, mengenali wajah cucu, berjalan di pasar, atau menuruni tangga. Dalam banyak kasus, operasi dapat memperbaiki penglihatan secara bermakna. Karena itu, menunda pemeriksaan hanya akan memperpanjang kesulitan yang mungkin dapat ditangani.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait