Nasional

Tanjungpandan Catat Deflasi 1,31 Persen pada Oktober 2026

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPANDAN, – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung mencatat Kota Tanjungpandan mengalami deflasi secara month-to-month (m-to-m) sebesar 1,31 persen pada periode Oktober 2026. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK)...

2 November 2026, pukul 17:00 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPANDAN, – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung mencatat Kota Tanjungpandan mengalami deflasi secara month-to-month (m-to-m) sebesar 1,31 persen pada periode Oktober 2026. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) ini terbilang signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang justru mencatatkan inflasi.

Kepala BPS Kabupaten Belitung, Baiq Kurniawati, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Tanjungpandan, Senin, menyampaikan bahwa kondisi ini berbanding terbalik dengan capaian September 2026. “Pada bulan Oktober 2026 terjadi deflasi yang cukup dalam yakni 1,31 persen. Ini turun drastis jika dibandingkan kondisi kita di bulan lalu, Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 1,89 persen,” katanya.

Meskipun secara bulanan mengalami deflasi, secara tahunan perbandingan Oktober 2026 terhadap periode yang sama tahun 2025, Tanjungpandan masih mengalami inflasi sebesar 2,75 persen. Sementara itu, secara tahun kalender dari Oktober 2026 terhadap Desember 2025, wilayah ini tercatat mengalami inflasi sebesar 2,50 persen.

Penyebab Deflasi

Baiq Kurniawati menjelaskan bahwa penyumbang utama deflasi Oktober 2026 secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi mencapai 1,45 persen. Komoditas yang menjadi penyumbang terbesar deflasi month-to-month meliputi daging ayam ras (0,42 persen), ikan kerisi (0,34 persen), ikan bulat (0,25 persen), ikan selar/tude (0,24 persen), dan ikan ekor kuning (0,22 persen).

Deflasi yang terjadi pada Oktober tidak terlepas dari sejumlah peristiwa penting. Salah satunya adalah penurunan harga daging ayam ras setelah komoditas tersebut sempat melonjak pada bulan sebelumnya. “Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), hal ini dipicu oleh masa panen serentak para peternak serta surplus pasokan dari daerah sentra (over supply). Kondisi ini berhasil menekan harga eceran daging ayam ras di pasar tradisional Belitung hingga sempat berada pada kisaran Rp38.000 per kilogram,” ujarnya.

Faktor lain yang mendorong deflasi adalah stabilnya cuaca perairan. Berdasarkan data sinoptik BMKG, kecepatan angin berkisar 4 hingga 13 knot memberikan dukungan positif bagi nelayan untuk kembali melaut sehingga tangkapan hasil laut melimpah. Intervensi Pemerintah Kabupaten Belitung melalui penyelenggaraan gerakan pasar ikan murah di Tanjungpandan turut memperkuat stabilitas harga di tingkat konsumen pada Oktober lalu.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara
Lihat di situs asli

Berita terkait