REPUBLIKA.CO.ID, KALIMANTAN TENGAH – PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan membangun sistem pencegahan dan penanggulangan sepanjang tahun. Melalui anak usahanya, PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM), perusahaan menyiapkan personel, teknologi deteksi dini, sarana pemadaman, patroli, hingga menggandeng masyarakat desa di sekitar wilayah operasional.
General Manager Region Kalteng dan Sumatera PT Triputra Agro Persada Tbk, Japatar Banjarnahor, mengatakan karhutla merupakan ancaman yang tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga masyarakat dan lingkungan. Karena itu, penanganannya tidak dapat dilakukan hanya ketika api sudah muncul.
Baca Juga- Pengusaha Kalbar Hibahkan Teknologi Prediksi Karhutla Hingga 24 Bulan
- Antisipasi Karhutla Meluas, Kemenhut Evakuasi Orang Utan di Kalimantan Barat
Menurut dia, kebakaran dapat mengancam ekosistem, kesehatan masyarakat, transportasi, hingga ketersediaan sumber air. Karena itu, pengendalian karhutla membutuhkan kesiapan dan kolaborasi berbagai pihak.
“Pengendalian karhutla adalah tanggung jawab yang tidak bisa dipikul sendiri. Menuntut sinergi semua pihak, pemerintah, pemegang izin atau perusahaan, dan masyarakat,” kata Japatar dalam pemaparannya mengenai kesiapsiagaan karhutla GBSM di Kalimantan Tengah, Rabu (26/8/2026).
Japatar menjelaskan, faktor manusia masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran. Aktivitas pembukaan lahan untuk permukiman dan pertanian, kebiasaan membakar, hingga kelalaian dapat menjadi pemicu.
Di sejumlah wilayah, kata dia, kebakaran juga dapat terjadi secara tidak sengaja. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang mencari ikan atau hasil alam di kawasan yang mengering saat musim kemarau.
“Faktor manusia, kebutuhan lahan, permukiman, pertanian, kebiasaan dan perilaku membakar, pembukaan lahan, kecemburuan sosial,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca dan akses menuju lokasi turut menjadi tantangan dalam pengendalian karhutla. Musim kemarau, angin kencang, lokasi yang jauh dari akses jalan, dan medan yang berat dapat memperlambat proses penanganan.
Menghadapi risiko tersebut, GBSM menyiapkan 585 personel satuan tugas pengendalian karhutla. Personel tersebut terdiri atas satgas di tingkat estate, regu inti, dan regu pendukung yang tersebar di wilayah operasional perusahaan.
Japatar mengatakan kesiapan personel dibangun sepanjang tahun, bukan hanya ketika memasuki musim kemarau. Struktur organisasi penanggulangan karhutla telah disiapkan di setiap estate dan diperkuat dengan pelatihan serta simulasi.
GBSM juga memiliki pengalaman bekerja sama dengan Manggala Agni untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi karhutla. Kerja sama pelatihan tersebut telah dilakukan sejak 2016 hingga saat ini.
“Dari 2016 kita sudah melakukan pelatihan dengan Manggala Agni,” kata Japatar.
TAP memperkuat upaya pencegahan karhutla sepanjang tahun melalui patroli terpadu dan kesiapsiagaan bersama TNI, Polri, serta Manggala Agni di wilayah operasional perusahaan, Kamis (27/8/2026). - (TAP)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika