REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan mulai masuk ke proses asesmen talenta di perusahaan, terutama untuk membantu mengumpulkan dan mengolah data perilaku dalam skala lebih besar. Namun, penggunaan AI tidak otomatis membuat hasil asesmen lebih valid atau adil karena interpretasi dan keputusan tetap membutuhkan penilaian manusia.
Perubahan tersebut muncul seiring kebutuhan organisasi mengambil keputusan terkait talenta dengan lebih cepat dan berbasis bukti. Asesmen tidak hanya digunakan untuk pengembangan individu, tetapi juga untuk menentukan kesesuaian seseorang terhadap suatu posisi, termasuk peran kepemimpinan, promosi, dan suksesi.
Baca Juga- Turnamen Padel Pertemukan Para Pekerja Kantoran di SCBD
- Pemkab Bangkalan Bentuk Tim Khusus Tekan Pekerja Migran Ilegal
- Niat Cari Pekerjaan, Janda di Garut Dipaksa Layani Hidung Belang
Daya Dimensi Indonesia memperkenalkan PortrAI, pendekatan AI-enabled Assessment Center yang dikembangkan untuk menghasilkan behavioral evidence secara lebih dinamis sekaligus mempersingkat proses asesmen. Teknologi itu diperkenalkan dalam forum “From Talent Decisions to Business Performance” pada 7 Oktober 2026.
Co-Founder Daya Dimensi Indonesia Vina G. Pendit mengatakan, kualitas asesmen berkaitan langsung dengan keputusan organisasi dalam menempatkan seseorang pada posisi tertentu. Karena itu, alat yang digunakan perlu tetap mempertahankan prinsip pengukuran dan pertanggungjawaban hasil.
“Asesmen untuk memilih orang yang tepat untuk memimpin merupakan bagian dari mitigasi risiko. Karena itu, kita membutuhkan tools yang relevan, tetapi tetap menjaga prinsip mengenai apa yang harus diukur dan bagaimana evidence tersebut dipertanggungjawabkan,” ujar Vina dalam siaran pers, Kamis (15/10/2026).
Perubahan pola kerja akibat penggunaan AI juga membuat asesmen perlu melihat kemampuan seseorang menggunakan teknologi, mengambil keputusan, dan menghadapi tuntutan kerja yang lebih kompleks. Penilaian tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan individu secara terpisah dari konteks teknologi yang digunakan.
Dalam PortrAI, peserta menjalani simulasi kerja yang responsnya dapat berkembang berdasarkan perilaku dan keputusan selama proses asesmen. Jejak perilaku tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu sumber data bagi asesor.
Teknologi juga digunakan untuk membantu mengorganisasi dan menganalisis informasi dalam jumlah lebih besar. Namun, hasil pengolahan tersebut tidak langsung menjadi keputusan akhir.
Head of Future of Work Daya Dimensi Indonesia Maharani Syahratu Kertapati mengatakan, kemampuan teknologi perlu dibedakan dari validitas penggunaannya dalam asesmen. Menurut dia, kemampuan AI melakukan suatu fungsi belum tentu berarti fungsi tersebut tepat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“AI dapat melakukan banyak hal dalam proses assessment, tetapi capability tidak sama dengan validity. Pertanyaan utamanya bukan hanya apakah teknologi mampu melakukan sesuatu, melainkan apakah penggunaannya tepat secara ilmiah untuk tujuan assessment dan dapat dipertanggungjawabkan dalam keputusan yang dihasilkan,” ujar Maharani.
Dalam pendekatan tersebut, AI digunakan untuk membantu menghasilkan dan mengorganisasi evidence, sementara keputusan tetap berada pada asesor manusia. Asesor bertugas memahami konteks, mengintegrasikan berbagai bukti, melakukan interpretasi, dan menggunakan professional judgment.
Aspek keadilan juga tetap menjadi perhatian. Penggunaan AI tidak serta-merta membuat asesmen lebih fair karena hasil tetap bergantung pada rancangan asesmen, cara pengumpulan bukti, metode analisis, dan proses pengambilan keputusan.
PortrAI ditujukan untuk kebutuhan identifikasi talenta, asesmen kepemimpinan, promosi, dan suksesi. Pendekatan tersebut juga digunakan untuk membantu organisasi memahami kesiapan talenta menghadapi lingkungan kerja yang semakin banyak memanfaatkan AI.
HC Director Kapal Api Group Rafael Widya Wiryawan mengatakan, asesmen memiliki fungsi penting dalam menentukan kesesuaian seseorang dengan posisi yang dijalankan. Menurut dia, penggunaan teknologi dapat menjadi salah satu perkembangan dalam proses tersebut.
“Bagi kami, asesmen memiliki peran penting dalam berbagai keputusan terkait talenta. Bukan hanya untuk pengembangan, asesmen juga membantu organisasi memahami kesesuaian seseorang dengan posisi yang dijalankan. Karena itu, pemanfaatan teknologi seperti PortrAI menjadi perkembangan yang menarik dalam proses asesmen,” ujar Rafael.
Masuknya AI ke proses asesmen memperluas kemampuan organisasi dalam mengolah data perilaku dan mempercepat proses. Namun, kualitas keputusan tetap bergantung pada validitas metode, konteks pekerjaan, serta kemampuan asesor mempertanggungjawabkan hasil akhir.
Ikuti Whatsapp Channel Republika