REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Biaya penataan ulang kantor (office fit-out) di berbagai negara Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Menurut JLL, kenaikan tersebut didorong oleh keterbatasan tenaga kerja, tekanan harga material, serta meningkatnya kompleksitas sistem mekanikal, elektrikal, dan teknologi bangunan.
Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026 merilis temuan terkait informasi yang menyajikan tren pasar dan faktor yang memengaruhi biaya penataan ulang kantor di 27 kota pada 14 negara di kawasan Asia Pasifik. Panduan tersebut mengidentifikasi peluang sekaligus tantangan penting dalam perencanaan belanja modal (capital expenditure) dan strategi office fit-out di lingkungan bisnis yang semakin kompleks pada 2026.
Baca Juga- Mal dan Perkantoran Dipagari Tinggi, Pramono: Jangan Berlebihan, Jakarta Aman
- Sejumlah Mal dan Perkantoran Pasang Pagar Tinggi, Pramono Pastikan Jakarta Aman
- BEI Ubah Harga Saham Terendah dari Rp 50 Jadi Rp 1, Saham Rp 11-Rp 200 ARA 35 Persen
Secara regional, rata-rata biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik mencapai 1.550 dolar AS per meter persegi (m2), dengan kenaikan sebesar 2–5 persen secara tahunan. Dibandingkan kota-kota utama di Asia Tenggara, Jakarta memiliki biaya penataan ulang kantor yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.
Head of Office Leasing Advisory JLL Indonesia, Rosari Chia, menyatakan, perbandingan itu membantu perusahaan memahami perbedaan biaya antar kota sehingga dapat menyusun perencanaan investasi dan standar desain kantor secara lebih tepat. Saat ini, Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara.
"Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar," kata Rosari dalam siaran pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika