Nasional

Tiga Madu Asal Indonesia Tampil dalam Sajian Premium di Singapura

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Kekayaan madu murni Indonesia menjadi salah satu daya tarik dalam pengalaman high tea bertema Winnie the Pooh and Friends yang digelar di SKAI Restaurant, Swissotel The...

24 Juli 2026, pukul 14:58 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Kekayaan madu murni Indonesia menjadi salah satu daya tarik dalam pengalaman high tea bertema Winnie the Pooh and Friends yang digelar di SKAI Restaurant, Swissotel The Stamford, Singapura, hingga 31 Agustus 2026. Melalui pengalaman kuliner bertajuk "Tea with a Little Hunny", madu dari berbagai daerah di Indonesia diangkat sebagai bahan utama dalam sajian gastronomi premium yang dinikmati wisatawan mancanegara.

Director of Marketing Communications Fairmont Singapore dan Swissôtel The Stamford, Elizabeth Wan, mengatakan penggunaan madu asal Indonesia bukan sekadar sebagai pemanis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada dunia.

Baca Juga

"Kehadiran madu asal Indonesia tidak sekadar menjadi pemanis, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan gastronomi yang memperkenalkan keragaman rasa dan warisan kuliner Indonesia kepada para tamu dari berbagai negara yang berkunjung ke Singapura," ujar Elizabeth dalam keterangan, Jumat (24/7/2026).

Dalam pengalaman tersebut, pengunjung diperkenalkan dengan tiga jenis madu murni asal Indonesia yang memiliki karakter berbeda.

Madu Hutan Hitam dari Flores dipanen secara alami dari lebah liar Apis dorsata yang hidup di hutan tropis dan menghasilkan cita rasa yang kaya. Sementara itu, Madu Bunga Kapas dari Jawa Tengah berasal dari nektar bunga kapas yang menghasilkan rasa lebih lembut. Adapun Madu Akasia Gelap dari hutan gambut di Pulau Jawa menawarkan cita rasa yang lebih kompleks dengan sentuhan karamel alami.

Ketiga jenis madu tersebut dipadukan dalam berbagai hidangan manis maupun gurih sebagai bagian dari pengalaman high tea yang mengangkat kisah persahabatan Winnie the Pooh dan penghuni Hundred Acre Wood.

Menurut Elizabeth, penggunaan bahan pangan dengan identitas geografis yang kuat menjadi bagian dari tren gastronomi yang semakin berkembang di Asia Tenggara.

 

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait