REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, pengelolaan keuangan menjadi salal satu kemampuan penting bagi setiap individu. Hal ini terutama bagi generasi Z, yang saat ini berada pada fase awal membangun kehidupan dan karier.
Pakar ekonomi dan keuangan syariah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, mengatakan generasi Z perlu belajar mengelola keuangan sejak dini agar tidak terjebak pada kondisi "besar pasak daripada tiang". Menurutnya, perencanaan keuangan bukan hanya tentang mengatur uang, namun juga mempersiapkan masa depan yang lebih sehat dan terarah.
Baca Juga- Siasat Atur Anggaran Liburan Sekolah Saat Rupiah Melemah
- Rupiah Melemah, Ini Tips Bijak Atur Keuangan Menurut Pakar
- Tips Liburan Antistres Bersama Anak ala Psikolog
"Planning is bringing the future into the present. Artinya kita memotret masa depan ke kondisi hari ini supaya kita tahu apa yang harus dilakukan sekarang," kata Dimas dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (13/6/2026).
Menurut Dimas, langkah pertama dalam perencanaan keuangan adalah memahami kondisi finansial diri sendiri melalui financial profile. Seseorang perlu mengetahui apakah dirinya berada dalam kategori sejahtera, semi sejahtera, kurang sejahtera, atau tidak sejahtera. Penilaian itu bisa mengacu pada perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran.
la menjelaskan kondisi ideal adalah ketika pendapatan berada di atas biaya hidup, sehingga seseorang masih memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membangun dana darurat. Sebaliknya, kondisi paling berbahaya terjadi ketika biaya hidup justru lebih besar dibanding pemasukan.
"Kalau cost lebih tinggi daripada income, tingkat kemakmuran kita akan menurun," kata Dimas.
Ia mengajak generasi Z untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menurut dia, hingga saat ini banyak anak muda yang terjebak dalam pola konsumsi berlebihan karena dorongan tren, gaya hidup, atau keinginan untuk mengikuti lingkungan sosial. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat mengganggu stabilitas keuangan dan menghambat pencapaian tujuan jangka panjang.
Dimas juga menekankan pentingnya financial check sebagai kontrol kesehatan keuangan. Dalam praktiknya, generasi muda disarankan membagi pemasukan ke dalam tiga pos utama, yakni living, saving, dan refreshing. Pos living mencakup kebutuhan hidup sehari-hari, saving untuk tabungan dan investasi, sementara refreshing bersifat opsional.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika