Nasional

Tito Minta Kepala Daerah Setop Rekrut Honorer Baru karena Jadi Beban

Mendagri Tito minta kepala daerah hentikan rekrutmen tenaga honorer baru untuk meringankan beban APBD dan fokus efisiensi belanja pegawai.

8 Juni 2026, pukul 06:46 WIB · dibaca 1 kali

Nasional Politik Tito Minta Kepala Daerah Setop Rekrut Honorer Baru karena Jadi Beban CNN Indonesia Senin, 08 Jun 2026 13:46 WIB Bagikan: url telah tercopy Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah menghentikan perekrutan tenaga honorer baru agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (Dok. Istimewa) Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah menghentikan perekrutan tenaga honorer baru agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Tito menjelaskan saat ini hanya terdapat 67 daerah yang memiliki porsi belanja pegawai di bawah 30 persen dari total APBD. Rinciannya terdiri atas 17 provinsi, 48 kabupaten, dan dua kota.

Lihat Juga :Kemendikdasmen Siapkan Skema Baru untuk Masa Depan Guru Non-ASN

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Artinya dominan sudah di atas 30 persen," kata Tito dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6)

Ia mengatakan harus ada upaya yang diambil pemerintah daerah agar porsi belanja pegawai tidak bertambah.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi pegawai atau menahan penambahan pegawai baru, terutama tenaga honorer.

"Opsinya nomor satu adalah mengurangi pegawai atau menahan pegawai. Artinya tidak ada rekrutmen baru, apalagi tenaga honorer. Honorer sudah dimoratorium. Ini mohon betul untuk seluruh kepala daerah ya. Harus tegas tidak ada tenaga honorer baru," kata Tito.

Lihat Juga :Nelangsa Guru di Sikka NTT Bergaji Rp150 Ribu dari Iuran Ortu Siswa

Menurut Tito, kebutuhan tenaga kerja di sektor tertentu seperti guru dan tenaga kesehatan masih bermanfaat untuk masyarakat.

Namun, ia menyinggung banyaknya tenaga honorer administrasi yang direkrut tapi tidak kompeten.

"Tapi kalau untuk yang tenaga administrasi, seringkali tidak kompeten, tidak memiliki kapabilitas. Ya mungkin bawaan dari pejabat-pejabat sebelumnya, kepala daerah, tim sukses dimasukkan di sana datang jam 8, pulang jam 10. Jadi beban. Dan setelah itu numpuk lah honorer ini dari kepala daerah ke kepala daerah," katanya.

Tito mengatakan penumpukan tenaga honorer dari waktu ke waktu itu akhirnya memunculkan tuntutan agar mereka diangkat menjadi PPPK. Setelah diangkat, menjadi beban APBD.

"Akhirnya menjadi beban dan ditentukan dibayar, dibiayai oleh APBD saat itu. Untuk rekan-rekan kepala daerah, tolong jangan ada lagi dulu penambahan honorer, karena akan menjadi beban. Beban biaya belanja pegawai dan jadi beban kepala daerah berikutnya," kata dia.

(yoa/fra) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]
Bagikan: url telah tercopy
Lihat di situs asli

Berita terkait