Nasional

TP PKK Jabar Gandeng Perwatusi Gaungkan Pencegahan Osteoporosis di HON 2026

BANDUNG — Ribuan warga antusias mengikuti peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Bale Rame, Kabupaten Bandung, Ahad (25/10/2026). Kegiatan tersebut digelar oleh Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi)...

25 Oktober 2026, pukul 06:32 WIB · dibaca 0 kali

BANDUNG — Ribuan warga antusias mengikuti peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Bale Rame, Kabupaten Bandung, Ahad (25/10/2026). Kegiatan tersebut digelar oleh Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis sejak dini.

Ketua TP PKK Jawa Barat sekaligus Ketua DPD Perwatusi Jabar Samantha Dewi menilai pendekatan keluarga dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pencegahan osteoporosis. Ia berharap, melalui TP PKK, edukasi mengenai pemenuhan nutrisi dan pentingnya aktivitas fisik dapat ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.

Baca Juga

Mengusung tema Mendampingi Indonesia Bertulang Kuat, kegiatan yang didukung Purnomo Yusgiantoro Center ini diisi dengan senam bersama, edukasi kesehatan dari para ahli, serta talkshow mengenai pencegahan osteoporosis. Penasihat Khusus Presiden Purnomo Yusgiantoro juga dijadwalkan hadir untuk mendukung kampanye pencegahan osteoporosis.

Ketua Umum Perwatusi Anita A. Hutagalung mengatakan, peringatan HON 2026 menjadi momentum untuk memperluas edukasi kesehatan tulang kepada masyarakat dari berbagai kelompok usia. Menurutnya, osteoporosis bukan hanya persoalan yang dihadapi orang lanjut usia, melainkan risiko kesehatan yang perlu diantisipasi sejak masa pertumbuhan.

“Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan komitmen dan panggilan bagi kita semua untuk bergerak bersama,” ujar Anita dalam konferensi pers di TP PKK Jabar, akhir pekan ini.

Anita mengatakan, satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas mengalami osteoporosis. Sementara itu, pada laki-laki, diperkirakan satu dari tujuh orang mengalami kondisi serupa.

Ia menilai, ancaman osteoporosis perlu mendapat perhatian karena penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi tersebut sering kali baru diketahui ketika penderita mengalami patah tulang, yang berpotensi membatasi aktivitas hingga menghilangkan kemandirian pada usia lanjut.

“Dari keropos tulang ini tentunya yang kita takutkan adalah patah tulang akibat osteoporosis. Itu yang selalu kita gaungkan, jaga tulang, jaga ototmu, kuatkan ototmu ya untuk kita dapat bahagia di hari tua dan dapat mandiri di hari tua,” katanya.

Untuk memperluas jangkauan pencegahan, Perwatusi menyasar anak-anak, remaja, ibu muda, dan lansia melalui program yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Edukasi di sekolah dan aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan menjaga kesehatan tulang sejak dini.

Bagi lansia, kata dia, Perwatusi menyediakan latihan yang menyesuaikan kondisi fisik, termasuk chair exercise atau senam menggunakan kursi.

Perwatusi juga menjalankan program senam virtual yang telah mencapai 925 episode dengan melibatkan sekitar 500 peserta. Program ini diikuti masyarakat dari Indonesia maupun luar negeri, termasuk Malaysia dan Virginia, Amerika Serikat.

Selain menggelar kegiatan edukasi, Perwatusi menargetkan pelatihan 500 instruktur setiap tahun. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas penyebaran informasi mengenai pencegahan osteoporosis hingga ke berbagai daerah.

Anita menegaskan, Jawa Barat menjadi salah satu fokus utama pengembangan program Perwatusi pada 2026. Namun, gerakan edukasi kesehatan tulang juga terus dilakukan di wilayah lain agar kesadaran masyarakat semakin merata.

Dukungan serupa disampaikan Branch Group Manager Kalbe Nutritional Dicky Sulaiman. Ia menekankan, upaya menjaga tulang tidak semestinya baru dilakukan ketika seseorang memasuki usia lanjut.

“Tulang itu bukan hanya urusan nanti kalau sudah sepuh. Jadi, harus dimulai, dibangun, dilindungi, dan diperkuat sejak hidup. Dan mulai dari usia muda. Di kami sebagai salah satu produsen untuk nutrisi untuk kesehatan tulang, kami mendukung sekali program yang dicanangkan organisasi Perwatusi,” kata Dicky.

Melalui peringatan HON 2026 di Bale Rame, Perwatusi berharap edukasi kesehatan tulang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang mendorong masyarakat aktif bergerak dan mencegah osteoporosis sejak dini.

Osteoporosis kerap tak disadari

Ketua DPC Perwatusi Cirebon Lusiana S. Yulianti mengatakan, masyarakat perlu memahami perbedaan osteoporosis dan osteopenia. Osteopenia merupakan kondisi ketika kepadatan mineral tulang mulai menurun, tetapi belum mencapai tingkat osteoporosis.

Keduanya perlu diwaspadai karena penurunan kepadatan tulang dapat meningkatkan risiko patah tulang. Faktor pemicunya beragam, mulai dari kekurangan nutrisi, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.

“Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang kerap tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penderitanya mungkin baru mengetahui kondisi tersebut ketika mengalami patah tulang,” kata Lusiana.

Ia menambahkan, perempuan lebih rentan mengalami osteoporosis setelah menopause akibat berkurangnya hormon estrogen. Karena itu, pemenuhan kebutuhan kalsium dan pembentukan cadangan mineral tulang perlu diperhatikan sejak usia muda.

Lihat di situs asli

Berita terkait