Nasional

Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Zelensky Desak AS Tekan Putin, Moskow Menyambut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesediaannya melanjutkan perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat (AS), meskipun hubungan Kyiv dan Washington semakin tegang akibat keputusan Presiden Donald Trump melonggarkan...

18 Oktober 2026, pukul 03:03 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesediaannya melanjutkan perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat (AS), meskipun hubungan Kyiv dan Washington semakin tegang akibat keputusan Presiden Donald Trump melonggarkan tekanan ekonomi terhadap Rusia. Zelensky menegaskan bahwa Ukraina siap berunding di mana pun dan dalam format apa pun, tetapi menolak apabila proses diplomasi justru memberikan keuntungan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pernyataan itu disampaikan Zelensky pada Sabtu (17/10/2026), sehari setelah Trump menandatangani perintah eksekutif yang menangguhkan penerapan sejumlah sanksi dan tarif baru terhadap Rusia. Keputusan Washington tersebut memicu kritik dari Ukraina dan sejumlah anggota Kongres AS, sementara Moskow menyambutnya sebagai perkembangan penting dalam hubungan kedua negara.

Baca Juga

"Jalur perundingan Amerika akan terus berlanjut. Kami berharap mereka memberikan tekanan lebih besar kepada Putin, bukan kepada kami. Jika tidak, hal itu sungguh tidak adil," tulis Zelensky melalui platform media sosial X, sebagaimana dikutip The Hill.

Zelensky mengatakan pemerintahannya tetap membuka kemungkinan perundingan langsung dengan perwakilan Washington dalam waktu dekat. Ia mengungkapkan bahwa pihak Amerika telah memberikan sinyal mengenai kemungkinan pertemuan baru pada pekan berikutnya.

"Yang terpenting adalah perdamaian. Pihak Amerika telah memberikan sinyal bahwa pertemuan kami dengan mereka dapat berlangsung pekan depan," katanya.

Kesediaan Zelensky melanjutkan diplomasi muncul ketika pemerintahan Trump justru mengambil sejumlah langkah yang dinilai Kyiv dapat memperkuat posisi tawar Rusia. Selain memberikan pengecualian terhadap sanksi baru, Washington sebelumnya mengumumkan kesepakatan pasokan diesel Rusia untuk membantu menekan harga bahan bakar di pasar global.

Reuters pada Sabtu (17/10/2026) melaporkan bahwa memburuknya hubungan Trump dan Zelensky berpotensi mengancam dukungan penting Amerika Serikat terhadap pertahanan Ukraina. Perselisihan tersebut tidak hanya menyangkut kebijakan sanksi, tetapi juga akses Kyiv terhadap informasi intelijen, teknologi komunikasi militer, dan pasokan persenjataan.

Sanksi Ditangguhkan, Moskow Menyambut

Keputusan Trump tertuang dalam perintah eksekutif berjudul Implementing the Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026, yang ditandatangani pada Jumat (16/10/2026). Undang-undang tersebut sebelumnya disahkan pada September untuk memperbesar tekanan ekonomi terhadap Rusia dan negara-negara yang membantu perdagangan energi Moskow.

Berdasarkan dokumen resmi Gedung Putih, undang-undang itu menyediakan mekanisme sanksi terhadap sejumlah individu, perusahaan, dan sektor ekonomi Rusia. Ketentuannya juga mencakup tarif tambahan terhadap barang Rusia serta negara-negara tertentu yang membeli minyak dan gas Rusia atau membantu penghindaran sanksi.

Namun, Trump menggunakan kewenangan pengecualian yang diberikan undang-undang tersebut dengan alasan kepentingan nasional Amerika Serikat. Dalam perintah eksekutifnya, Trump menyatakan telah menyampaikan sertifikasi kepada Kongres bahwa pemberian pengecualian tersebut sesuai dengan kepentingan nasional negaranya.

Financial Times melaporkan pada 17 Oktober bahwa keputusan itu membuat sejumlah sanksi baru yang diwajibkan undang-undang tidak diberlakukan sesuai jadwal. Langkah tersebut diambil ketika pemerintahan Trump berusaha menekan harga energi menjelang pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat pada November.

Meski demikian, keputusan tersebut tidak berarti seluruh sanksi Washington terhadap Rusia telah dihapus. Dokumen Gedung Putih secara khusus mempertahankan keberlakuan sejumlah tindakan pembatasan sebelumnya yang diterapkan berdasarkan perintah eksekutif lain.

Dari Moskow, keputusan Trump mendapat sambutan positif. Kantor berita Rusia TASS pada 17 Oktober mengutip utusan khusus Presiden Putin untuk investasi dan kerja sama ekonomi internasional, Kirill Dmitriev, yang menyebut penangguhan ketentuan Graham Act sebagai perkembangan bersejarah.

"Penangguhan Graham Act oleh pemerintahan Presiden Donald Trump merupakan momen penting dan benar-benar bersejarah," kata Dmitriev melalui Telegram, sebagaimana diberitakan TASS.

Dmitriev menilai kebijakan tersebut membuka ruang bagi hubungan ekonomi yang lebih konstruktif antara Rusia dan Amerika Serikat. Menurut dia, penerapan undang-undang itu berpotensi menghentikan kerja sama ekonomi kedua negara sekaligus menimbulkan kerugian bagi perekonomian Amerika dan pasar global.

"Alih-alih sanksi dan konfrontasi, kita memiliki dialog, kerja sama yang saling menguntungkan, dan tanggung jawab bersama terhadap stabilitas global," ujar Dmitriev.

Ia juga berpendapat bahwa kerja sama ekonomi Rusia dan Amerika Serikat dapat membantu membangun kepercayaan serta menciptakan landasan bagi perdamaian yang berkelanjutan. Pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan mendasar antara penilaian Moskow dan Kyiv terhadap keputusan Trump.

Bagi Rusia, pelonggaran tekanan ekonomi dipandang sebagai peluang memperbaiki hubungan dengan Washington. Sebaliknya, Ukraina menilai pengurangan tekanan tersebut berisiko menghilangkan salah satu instrumen yang selama ini digunakan untuk mendorong Rusia menghentikan operasi militernya.

Ancaman Pemadaman Listrik Ukraina

Kekhawatiran Zelensky semakin besar karena keputusan Trump berlangsung bersamaan dengan meningkatnya serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina. Serangan tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap pasokan listrik dan pemanas menjelang musim dingin.

Deutsche Welle pada 17 Oktober melaporkan bahwa Zelensky memperingatkan adanya upaya Rusia untuk menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di Ukraina. Presiden Ukraina itu mengaitkan serangan terhadap jaringan energi dengan kebijakan Washington yang dinilainya justru mengurangi tekanan terhadap Moskow.

Menurut laporan Financial Times, Zelensky menyebut Rusia telah melancarkan salah satu serangan terbesar terhadap sektor energi Ukraina. Ia mengatakan lebih dari 15 fasilitas penting pembangkit dan transmisi listrik menjadi sasaran, dengan konsekuensi serius bagi pasokan energi negara tersebut.

Zelensky menyatakan serangan itu melibatkan lebih dari 320 drone serta sejumlah rudal jelajah dan balistik. Angka tersebut merupakan keterangan pemerintah Ukraina yang dilaporkan Financial Times, bukan hasil verifikasi independen mengenai seluruh proyektil yang digunakan.

"Penghentian sanksi AS, pelonggaran tekanan terhadap agresor, dan keuntungan finansial bagi Putin hanya akan mendorongnya untuk terus menyerang," kata Zelensky melalui X.

Ia menegaskan bahwa upaya diplomasi harus diarahkan untuk benar-benar mengakhiri perang, bukan memberikan kesempatan kepada Rusia untuk mempertahankan operasi militernya tanpa batas waktu.

Persoalan energi kini menjadi salah satu titik pertentangan utama antara Washington dan Kyiv. Ukraina mempertahankan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan ekonomi dan logistik perang Moskow, sementara Trump menilai serangan tersebut turut memperburuk harga energi internasional.

Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa pejabat Amerika Serikat telah menekan Ukraina agar menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Menurut laporan yang mengutip pejabat-pejabat Eropa tersebut, Washington bahkan mengaitkan tuntutan itu dengan kemungkinan pembatasan dukungan intelijen dan mekanisme pengadaan persenjataan bagi Kyiv.

Trump membantah bahwa Amerika Serikat telah menghentikan pembagian intelijen kepada Ukraina. Namun, Zelensky menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan berkurangnya akses terhadap informasi yang diperlukan untuk menghadapi serangan rudal dan drone Rusia.

Ketergantungan Ukraina terhadap dukungan teknologi dan militer Amerika membuat ketegangan diplomatik tersebut memiliki konsekuensi yang jauh melampaui perdebatan mengenai sanksi ekonomi.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait