REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Bersama elemen Masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa di Kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa(20/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan berbagai persoalan, mulai dari kesejahteraan Masyarakat, keadilan, hingga penanganan masalah lingkungan.
Berdasarkan pantauan Republika di lokasi, aksi berlangsung sejak sekitar pukul 15.00 WIB. Sejumlah perwakilan mahasiswa, organisasi pergerakan, dan elemen masyarakat, termasuk buruh, bergantian menyampaikan orasi di hadapan peserta aksi.
Baca Juga- Kakanwil Pemasyarakatan: Masa Pembinaan Adalah Kesempatan Memperbaiki Diri
- IRGC Isyaratkan Kabel Internet Selat Hormuz Jadi Sasaran, Dunia Waswas
- Polres Purbalingga Bongkar 15 Kasus Penipuan Motor Modus Kenalan Medsos
Mahasiswa dari sejumlah daerah, diantaranya Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera, Sulawesi, dan Papua, turut menyampaikan aspirasi. Para peserta aksi yang lain pun membawa tulisan dan poster berisi kritik serta tuntutan kepada pemerintah.
Ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Yatalathof Ma’shum Imawan mengatakan, aksi tersebut berangkat dari penilaian mahasiswa terhadap kondisi pemerintah selama dua tahun terakhir. Menurut dia, persoalan kesejahteraan dan keadilan masyarakat masih menjadi perhatian utama.
Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra saat aksi di kawasan Tugu Tani, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Aksi yang digelar bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo - Gibran ini mengkritisi tindakan pemerintah yang dinilai lamban dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi wilayah Kalimantan, serta menuntut pemerintah untuk mengevaluasi sejumlah program diantaranya program MBG dan Kopdes yang dinilai menghamburkan anggaran negara. - (Republika/Thoudy Badai)
“Kami menganggap pemerintah sekarang sudah gagal dalam mengurus kesejahteraan dan juga keadilan bagi masyarakat luas,” kata Yatalathof saat ditemui Republika di sela sela aksi.
Selain persoalan kesejahteraan, Yatalathof menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat. Dia menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi warga yang terdampak.
Menurut dia, persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dalam keselamatan masyarakat. Ia menyebut masih ada warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, sementara persoalan lingkungan dinilai belum memadai.
Dalam aksi tersebut, BEM UI juga membawa komplikasi kajian dari berbagai kampus yang disebut sebagai bunga rampai. Kajian itu mencakup sejumlah isu, antara lain demontrasi dan hak asasi manusia, hukum tata kelola pemerintah, ekonomi, lingkungan, serta pelayanan publik.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : MG-167