REPUBLIKA.CO.ID, KATHMANDU -- Runtuhnya gletser di Nepal, yang diduga memicu banjir bandang, menyebabkan getaran seismik berkekuatan magnitudo (M) 5,2 yang awalnya disalahartikan para ilmuwan sebagai gempa bumi. Hal itu diungkap oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
"Peristiwa seismik bermagnitudo 5,2 terjadi di dekat perbatasan antara Nepal dan China pada 26 Agustus. USGS menentukan peristiwa seismik tersebut merupakan keruntuhan gletser dan aliran material longsoran yang kemudian menimbulkan dampak dahsyat di wilayah hilir," kata USGS dalam pernyataannya, pada Rabu (26/8/2026).
Baca Juga- Menkop Dorong Benteng Van Der Wijck Jadi Penggerak Ekonomi Kebumen
- Shopee 9.9 Super Shopping Day Penuh Promo, Penawaran Spesial, dan Keseruan Baru
- Handover of the Giuseppe Garibaldi Aircraft Carrier in Jakarta, After That to Lampung
"Peristiwa ini awalnya dilaporkan sebagai gempa bumi bermagnitudo 4,4," imbuh mereka.
Namun, analisis lebih lanjut terhadap data menunjukkan bahwa tidak terjadi gempa bumi. Gelombang seismik tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser dan aliran lumpur, menurut pernyataan tersebut.
Aliran air sangat deras kemudian menerjang Sungai Bhotekoshi di wilayah pegunungan Nepal pada Rabu. Banjir bandang tersebut sebelumnya dilaporkan disebabkan oleh gempa bumi yang kemudian memicu tanah longsor. Menurut Otoritas Pariwisata Nepal, lebih dari 660 wisatawan dilaporkan hilang setelah banjir tersebut.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti