REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Peran perempuan dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan semakin mendapat perhatian global. Di tengah tuntutan untuk menekan dampak perubahan iklim, profesional di bidang environmental, social, and governance kini juga dituntut untuk mampu menghubungkan agenda lingkungan dengan strategi bisnis dan keputusan keuangan.
Salah satu perempuan Indonesia yang mendapat pengakuan di bidang ini adalah Karida Humaira Niode, Vice President Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk. Ia masuk dalam daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026, yang menyoroti 50 perempuan muda di dunia dengan kontribusi di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola. Karida tercatat sebagai satu-satunya perwakilan perempuan Indonesia dalam daftar tersebut.
Baca Juga- Kapolri Perintahkan Seluruh Polda Basmi Perkampungan Narkoba
- James McAvoy Akui Pernah Di-bully Sesama Aktor Saat Baru Terjun Main Film
- Wamentan Saleh Pacu Investasi Fosfat di Aljazair, Perkuat Pasokan Bahan Baku Pupuk Nasional
Karida terpilih untuk masuk ke dalam daftar ini atas kontribusinya dalam menyusun salah satu rencana transisi iklim korporasi pertama di Indonesia dan memberikan nasehat terkait ESG untuk transaksi pembiayaan campuran pertama di Tanah Air untuk sektor transportasi berkelanjutan. Inisiatif ini turut mendorong peralihan Indonesia dari transportasi berbahan bakar fosil.
Di tengah dominasi batu bara dan masih lebarnya kesenjangan antara ambisi iklim dan implementasinya di dunia usaha, Karida berupaya mewujudkan target netralitas karbon menjadi langkah nyata dalam operasional perusahaan. Berbekal pengalaman di bidang konsultasi, teknologi iklim, dan ESG korporasi, ia menerjemahkan standar iklim global menjadi aksi nyata yang relevan dengan kebutuhan pasar negara berkembang.
Selain itu, Karida turut memimpin aspek ESG dalam fasilitas pembiayaan senilai 15 juta dolar AS untuk bisnis transportasi berkelanjutan melalui Electrum, anak usaha TBS. Fasilitas yang melibatkan Asian Development Bank, DBS Bank, dan Australian Climate Finance Partnership tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan transportasi rendah emisi.
Bagi Karida, pekerjaan di bidang ESG bukan sekadar memastikan perusahaan memenuhi standar keberlanjutan, tetapi juga mendorong isu iklim menjadi bagian dari keputusan bisnis, mulai dari investasi hingga pembiayaan. Ia juga menilai perempuan perlu mendapat ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan finansial, sehingga perannya di industri ESG tidak terbatas pada isu keberlanjutan saja.
“Kita bisa saling menginspirasi dan membangun koneksi dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan finansial, bukan hanya membahas isu keberlanjutan. Di awal karier saya, pembahasan ESG sering kali berjalan terpisah dari keputusan bisnis. Saya melihat perempuan di sekitar saya lebih banyak dilibatkan dalam diskusi keberlanjutan, tetapi belum banyak mendapat ruang dalam pengambilan keputusan finansial,” ujar Karida saat dihubungi wartawan, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, penguasaan keterampilan teknis seperti penghitungan emisi, penetapan harga karbon, dan pembiayaan transisi dapat membantu perempuan mengambil peran lebih besar dalam proses tersebut. Ia juga mendorong program mentoring yang mempertemukan perempuan muda di bidang ESG dengan para pengambil keputusan keuangan, seperti direktur keuangan dan profesional pembiayaan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika