Nasional

Wakil Ketua MPR RI Ungkap Tantangan Transisi Energi dari Segi Investasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengungkapkan, saat ini dunia menghadapi perkembangan positif dalam transisi energi sebagai upaya mengurangi emisi karbon dan mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Namun,...

19 Oktober 2026, pukul 05:22 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengungkapkan, saat ini dunia menghadapi perkembangan positif dalam transisi energi sebagai upaya mengurangi emisi karbon dan mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, seiring dengan perkembangan positif, ada sederet tantangan yang dihadapi dalam proses transisi energi,di antaranya ihwal investasi.  

"Ada sejumlah pekembangan positif yang dapat kita lihat. Salah satunya, transisi energi kini telah menjadi gerakan global. Transisi energi tidak lagi berlangsung secara terpisah di masing-masing negara, melainkan telah menjadi agenda bersama di seluruh dunia. Semua pihak membicarakan fase transisi energi ini," ujar Eddy dalam acara ESG NOW Forum & Awards 2026 yang digelar REPUBLIKA di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026).  

Baca Juga

Ia menjelaskan, pada tahun 2025, investasi di sektor energi mencapai sekitar 3,4 triliun dolar AS, dengan 2,2 triliun dolar AS di antaranya dialokasikan untuk investasi energi terbarukan. Di sisi lain, biaya sumber energi terbarukan telah turun secara signifikan. Sebagai contoh, harga panel surya dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu telah turun hingga 80 persen.

"Artinya, biaya investasi untuk mengembangkan energi terbarukan kini jauh lebih rendah," tuturnya.  

Selanjutnya, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga mengalami perubahan. Kendaraan listrik yang sebelumnya merupakan pilihan alternatif transportasi kini mulai menjadi pilihan utama. Saat ini, ia mencatat satu dari setiap lima mobil yang terjual di Indonesia merupakan kendaraan listrik.

Namun, Eddy melanjutkan, dunia menghadapi berbagai tantangan. Ia menyebut, jika berbicara tentang energi terbarukan dan transisi energi saat ini, kondisi yang terlihat, dalam skenario terbaik sekalipun, masih merupakan transisi energi yang berlangsung secara tidak teratur (disorderly energy transition). 

"Artinya negara-negara berlomba-lomba mengembangkan sumber energi terbarukan, tetapi pada saat yang sama juga terus mengembangkan sumber energi berbasis karbon. Dengan kata lain, energi fosil dan energi terbarukan masih dikembangkan secara bersamaan," terangnya. 

Eddy menyebut, transisi energi juga membutuhkan investasi yang sangat besar. Indonesia sendiri, dalam delapan tahun ke depan, perlu menginvestasikan hingga 190 miliar dolar AS untuk mengembangkan rencana energi terbarukan dan mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 35 persen pada masa mendatang.

"Subsidi bahan bakar fosil juga masih menjadi tantangan yang cukup besar dalam mempercepat transisi energi terbarukan. Dengan adanya subsidi energi, energi fosil seolah-olah terlihat jauh lebih efisien dibandingkan energi terbarukan. Padahal, harga energi fosil tersebut menjadi lebih murah karena disubsidi, bukan semata-mata karena biaya produksinya lebih rendah," tuturnya. 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait