Nasional

Wamen Dahnil Sebut Ekonomi Syariah Alami Tantangan Moral Hazard

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti tantangan di industri ekonomi dan keuangan syariah, terutama dilema antara praktek syariah dan moral hazard. Menurutnya, praktek...

1 Juli 2026, pukul 22:47 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti tantangan di industri ekonomi dan keuangan syariah, terutama dilema antara praktek syariah dan moral hazard. Menurutnya, praktek ekonomi syariah mestinya betul-betul berlandaskan pada nilai-nilai kesyariahan yang halal dan tayyib (baik).

"Tantangan ekonomi syariah hari ini adalah ada dilema antara praktek syariah di satu sisi, di sisi lain adalah moral hazard. Banyak hari ini orang yang bertopeng syariah, tetapi kemudian prakteknya tidak syariah," kata Dahnil saat hadir dalam acara Anugerah Republika Syariah (ASR) 2026 yang digelar di Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026) malam WIB.

Baca Juga

Dahnil mencontohkan, beberapa kasus yang belakangan muncul di industri keuangan syariah, seperti kasus skandal penipuan investasi, penggelapan, dan pemalsuan laporan keuangan berkedok syariah PT Dana Syariah Indonesia (DSI). Kasus seperti itu menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi masyarakat, pada akhirnya juga menimbulkan trust issue.

"Sekarang ini kan tantangannya tidak mudah. Misalnya ada banyak kasus-kasus, seperti DSI, kasus Hanania Travel, dan praktik-praktik lainnya," ucap Dahnil.

Dia pun menekankan, tantangan tersebut perlu dihadapi bersama oleh berbagai pihak. Termasuk media umat, seperti Republika dalam menyampaikan edukasi atau literasi, sehingga mampu mendorong industri yang lebih transparan dan menerapkan maqasid syariah.

"Inilah tantangan yang harus dipecahkan, terutama oleh Republika, teman-teman di entitas syariah, supaya kemudian public trust bisa kembali diperoleh. Sekarang ini menurut saya public trust pada posisi titik nadir yang buruk. Sehingga komunitas ekonomi syariah harus punya keinginan mengembalikan public trust itu dengan cara mengedepankan, bukan sekedar entitas syariahnya tetapi moral syariahnya harus adil untuk prakteknya," jelas Dahnil.

Republika kembali menggelar Anugerah Syariah Republika (ASR) 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada para pelaku industri, institusi, dan tokoh yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi syariah nasional.  Mengusung tema "Sharia for All: Beyond Profit, Toward Purpose", ajang penghargaan tahun ini menegaskan ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga menghadirkan manfaat lebih luas.

Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin menyampaikan, tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa prinsip syariah mengedepankan keseimbangan antara keberhasilan usaha dengan tanggung jawab sosial, keberlanjutan, dan kemaslahatan.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait