REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 11 proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, diproyeksikan membuka lebih dari 10 ribu lapangan kerja baru. Proyek dengan total investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun tersebut mencakup industri baterai kendaraan listrik, pengolahan nikel, hingga komponen energi surya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, pengembangan proyek tersebut akan membentuk rantai industri yang lebih terintegrasi. Investasi ini juga diharapkan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di kawasan industri Maluku Utara.
Baca Juga- Hilirisasi Sebagai Katalis Kesejahteraan dan Kemakmuran Rakyat
- RI Targetkan Ekspor Nikel US$45 Miliar pada 2026, Bukti Hilirisasi Berbuah Manis
"Dengan pembangunan tersebut, ekosistem industri di kawasan tersebut semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir, dan akan tercipta lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan," ujar Rosan berdasarkan keterangan yang diterima pada Senin (19/10/2026).
Menurut Rosan, proyek yang telah dan akan dibangun meliputi industri material baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolitik, serta alat berat berbasis listrik. Pengembangan tersebut mencakup berbagai tahapan pengolahan bahan baku hingga produk industri.
"Lalu, material baterai berbasis nikel, separator baterai kendaraan listrik, elektrolit baterai EV, hingga photovoltaic glass untuk industri energi surya," kata Rosan.
Rosan menjelaskan, proyeksi penyerapan lebih dari 10 ribu pekerja tersebut berasal dari proyek-proyek baru yang tengah dikembangkan. Angka itu berbeda dari jumlah tenaga kerja yang telah terserap secara kumulatif di kawasan IWIP, yakni lebih dari 100 ribu orang.
Pengembangan industri hilirisasi juga menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka kesempatan kerja.
Rosan menyebut lebih dari 75 persen realisasi investasi hilirisasi berlangsung di luar Pulau Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya aktivitas investasi pengolahan sumber daya alam di berbagai daerah, termasuk Maluku Utara.
Di provinsi tersebut, industri pengolahan kini disebut menyumbang hampir separuh produk domestik bruto (PDB) daerah. Perkembangan itu menunjukkan perubahan struktur ekonomi Maluku Utara seiring bertambahnya aktivitas industri. “Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tetapi telah menjadi daerah industri," kata Rosan.
Pemerintah berharap pengembangan proyek hilirisasi dapat meningkatkan kegiatan ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja dan aktivitas industri pendukung. Meski demikian, tambahan lebih dari 10 ribu lapangan kerja tersebut masih merupakan proyeksi dari proyek yang sedang dikembangkan.
Ikuti Whatsapp Channel Republika