Nasional

AESI: Energi Surya Kian Strategis bagi Industri Berorientasi Ekspor

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menilai energi surya semakin menjadi kebutuhan strategis bagi industri berorientasi ekspor di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon. Perusahaan...

13 Juni 2026, pukul 13:07 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menilai energi surya semakin menjadi kebutuhan strategis bagi industri berorientasi ekspor di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon. Perusahaan yang lebih cepat mengadopsi energi bersih dinilai akan memiliki keunggulan kompetitif dalam mempertahankan akses pasar internasional.

Ketua AESI Mada Ayu Habsari mengatakan periode 2026 hingga 2028 menjadi momentum penting bagi percepatan adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sektor industri. Menurut dia, kombinasi dukungan kebijakan, peningkatan kebutuhan industri, serta tuntutan pasar global mendorong pemanfaatan energi surya semakin relevan bagi dunia usaha.

“Adopsi energi surya di sektor industri tumbuh secara konsisten dan arahnya sudah sangat positif. Saat ini mayoritas kapasitas PLTS atap nasional digunakan oleh sektor industri. Namun jika dibandingkan dengan potensi teknis energi surya Indonesia yang sangat besar, pemanfaatannya masih di bawah satu persen,” ujar Mada dalam Green Energy Solutions Forum for Manufacture Owners di Bandung, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan sektor manufaktur saat ini menjadi pengguna terbesar PLTS atap nasional. Meski demikian, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar mengingat potensi energi surya Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Mada, percepatan adopsi energi surya didorong oleh empat faktor utama, yakni ketersediaan kuota PLTS yang masih terbuka, meningkatnya permintaan dari sektor industri, dukungan kebijakan pemerintah, serta tekanan pasar global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

“Perusahaan yang bergerak lebih awal akan memiliki keuntungan lebih besar dalam mengamankan daya saing bisnisnya di masa depan,” katanya.

AESI menilai implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa sejak awal 2026 semakin memperkuat urgensi penggunaan energi bersih di sektor industri. Selain itu, tuntutan transparansi jejak karbon dalam rantai pasok global juga mendorong perusahaan untuk mempercepat langkah dekarbonisasi.

Dalam forum yang sama, CEO Trivigo Kunadi Setiadi mengatakan energi kini menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing industri manufaktur. Menurut dia, tekanan biaya energi dan tuntutan pasar internasional membuat perusahaan perlu mulai memandang energi hijau sebagai bagian dari strategi bisnis.

Kunadi menilai saat ini terdapat momentum yang mendukung percepatan transisi energi, yakni regulasi yang semakin terbuka, harga teknologi panel surya yang semakin kompetitif, serta meningkatnya perhatian pasar global terhadap jejak karbon produk.

“Ada tiga hal yang jarang sekali bergerak bersamaan, dan ketiganya sedang bergerak sekarang. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon semakin nyata,” ujar Kunadi.

Ia menambahkan biaya listrik masih menjadi komponen penting dalam struktur biaya produksi sejumlah industri. Pada sektor tekstil, misalnya, biaya energi dapat mencapai 15 hingga 25 persen dari total biaya produksi.

Menurut Kunadi, investasi energi surya kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menyangkut efisiensi biaya dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

“Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, penggunaan energi surya di sektor industri tidak lagi menjadi pembeda, melainkan standar minimum. Perusahaan yang bergerak lebih cepat akan menikmati keuntungan kompetitif yang sulit dikejar oleh mereka yang terlambat,” katanya.

Lihat di situs asli

Berita terkait