Nasional

Menakar Keberpihakan Kita terhadap Pengusaha Lokal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sebuah perenungan mendalam muncul ketika kita melihat potret kebijakan ekonomi hari ini. Pemerintah dan jajaran pejabat publik tampak begitu mengagungkan investor asing yang menanamkan modal fisik di Indonesia. Karpet...

13 Juni 2026, pukul 14:54 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Dr H Serian Wijatno S E, MM, MH

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sebuah perenungan mendalam muncul ketika kita melihat potret kebijakan ekonomi hari ini.

Pemerintah dan jajaran pejabat publik tampak begitu mengagungkan investor asing yang menanamkan modal fisik di Indonesia. Karpet merah digelar, senyum merekah menyambut, dan segala karunia kemudahan ditawarkan.

Baca Juga

Tentu, menarik investasi asing tidak salah—bahkan bagus dan diperlukan untuk memutar roda ekonomi nasional. Namun, ada harga mahal dan ironi besar yang kerap luput dari perhatian jika kita kehilangan keseimbangan dalam menata keberpihakan.

​Investor asing datang bukan tanpa pamrih. Mereka membawa daftar persyaratan yang berat: mulai dari insentif pajak yang masif, jaminan regulasi, hingga tuntutan untuk membawa tenaga kerja asing (TKA) mereka sendiri.

Sifat investasi internasional pun sangat pragmatis. Pengusaha asing tidak diikat oleh rasa cinta kepada Republik ini. Begitu situasi geopolitik bergeser atau ada negara lain yang menawarkan keuntungan lebih menggiurkan, mereka bisa dengan mudah angkat kaki dari tanah air.

​Indonesia sejatinya tidak kekurangan pahlawan ekonomi lokal. Kita memiliki barisan pengusaha domestik yang hebat dan teruji zaman.

Mereka adalah para petarung yang telah tahan banting melewati berbagai krisis, berkontribusi nyata bagi penerimaan negara selama puluhan tahun, memahami seluk-beluk budaya lokal, dan yang terpenting: berkomitmen penuh menyerap tenaga kerja anak bangsa.

​Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengusaha nasional sebagai anak kandung sendiri ini masih harus menghadapi jalan yang terjal. Bahkan ada kesan membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah ketidakpastian.

Dua Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengemas kedelai ke dalam plastik pembungkus di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (13/6/2026). Lapas Kelas I Surabaya memberikan pelatihan keterampilan melalui program pembinaan kemandirian untuk membekali WBP dengan kemampuan produktif agar dapat mandiri secara ekonomi setelah bebas dan kembali berperan sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

 

Loading... Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait