JAKARTA — Inggris dan Jerman memperluas kerja sama teknologi militernya. Kedua negara bersiap mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut direncanakan masuk dalam sistem pertahanan mereka.
Langkah ini menandai perluasan kemitraan pertahanan kedua negara. Pengembangan AI akan mencakup pengujian dan penerapan militer. Kerja sama tersebut juga melibatkan perusahaan industri pertahanan.
Baca Juga- Berseteru soal Israel, Haley Stevens Membelot Dukung Lawan El-Sayed Jelang Pemilu AS
- Iklan Kaitkan Bantuan AS ke Israel dengan Harga Pangan, Demokrat Michigan Berseteru
- Eropa Hadapi Kerugian Rp16.000 T, Pemukiman Pesisir Terpaksa Angkat Kaki ke Daratan
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengumumkan rencana tersebut. Pengumuman disampaikan menjelang pertemuan di Berlin, Senin (2/11/2026). Streeting bertemu Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius.
Dilansir Euronews, Selasa (3/11/2026), kedua negara menyiapkan pengembangan bersama. Fokusnya mencakup teknologi AI bagi angkatan bersenjata. Program tersebut memperluas proyek keamanan siber Cyber Lighthouse.
Streeting menjelaskan rencana itu melalui surat kabar Jerman. Pernyataannya diterbitkan Frankfurter Allgemeine Zeitung menjelang pertemuan bilateral.
"Melalui pengujian, pengembangan, dan penerapan AI secara bersama, kami akan memperdalam kerja sama angkatan bersenjata," kata Streeting.
Ia menegaskan kedua negara perlu mengikuti perkembangan ancaman. Kemampuan teknologi pihak yang dianggap mengancam terus berkembang.
Streeting juga menyinggung meningkatnya aktivitas sabotase dan ancaman siber. Ia mengaitkan sejumlah ancaman keamanan Eropa dengan Rusia. Menurutnya, perkembangan kemampuan pihak lawan membutuhkan respons bersama.
Pemerintah Inggris dan Jerman menyiapkan pertemuan lanjutan. Pertemuan akan berlangsung pada musim semi 2027. Wakil pemerintah dan industri pertahanan dijadwalkan terlibat.
Forum tersebut akan merumuskan pelaksanaan kerja sama AI. Pembahasan mencakup kebutuhan militer dan kemampuan industri. Namun, rincian teknologi yang dikembangkan belum diumumkan.
Kedua pemerintah juga belum menetapkan anggaran proyek. Jadwal operasional sistem AI pun belum disampaikan. Dengan demikian, tahun 2027 merupakan tahap pembahasan implementasi, bukan kepastian pengerahan teknologi.
Dari Pertahanan Siber ke Kecerdasan Buatan
Kerja sama terbaru berakar pada kesepakatan tahun 2024. Inggris dan Jerman menandatangani Trinity House Agreement. Perjanjian itu memperkuat hubungan pertahanan kedua negara.
Kesepakatan tersebut mencakup berbagai bidang operasi militer. Keduanya memperluas koordinasi darat, laut, udara, dan siber. Pengembangan teknologi pertahanan menjadi bagian penting kerja sama.
Pada Oktober 2025, kedua negara meningkatkan koordinasi siber. Program Cyber Lighthouse mempertemukan unit khusus militer mereka. Tujuannya memperkuat pertukaran informasi dan kemampuan pertahanan digital.
Proyek tersebut mencakup pengembangan jaringan komputasi awan aman. Sistemnya dirancang mendukung pertukaran informasi secara langsung. Perlindungan terhadap serangan siber juga menjadi prioritas.
Penambahan AI memperluas cakupan proyek yang sudah berjalan. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengolahan informasi militer. Namun, penggunaannya secara spesifik masih menunggu keputusan bersama.
Penguatan kemitraan juga berlangsung pada Oktober 2026. Kedua negara membahas kolaborasi industri pertahanan di London. Salah satu programnya mengembangkan kemampuan serangan presisi jarak jauh.
Kerja sama tersebut berkaitan dengan kebutuhan pertahanan NATO. Inggris dan Jerman merupakan anggota aliansi militer itu. Keduanya berupaya memperkuat kemampuan menghadapi ancaman keamanan Eropa.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika