REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku heran atas sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging) menjadi pasar tersendiri (standalone).
Airlangga menyebut hal itu tidak menjadi pembahasan saat pertemuan pemangku kepentingan sektor keuangan Indonesia dan MSCI di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10/2026).
Baca Juga- BMKG Pastikan Asap Karhutla Telah Masuk Wilayah Jakarta
- Netanyahu Ungkap Bicara dengan Al-Sharaa Usai Serangan Israel ke Damaskus
- Rakornas Baznas, Gubernur NTB Jadi Gubernur Terbaik Pendukung Gerakan Zakat di Indonesia
"Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin nggak bicara pasal ini? ini kan ada tanda tanya besar kemarin di Thailan kok nggak ngomong yang ini, padahal yang kemarin itu seminggu juga belum. Ya tentu kita lihat aja, tapi kita tidak boleh suudzon," ujar Airlangga di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Airlangga telah menyampaikan bahwa sektor keuangan Indonesia secara fundamental berada pada posisi yang kuat. Namun, lanjut Airlangga, MSCI justru melihat faktor sentimental.
"Kita berharap para investor paham, mana yang sentimental, mana yang fundamental, dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain, kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini," ucapnya.
Airlangga mendorong BEI dapat memenuhi target implementasi yang diminta MSCI. Dia mengatakan reformasi pasar modal Indonesia memiliki waktu pelaksanaan yang relatif lebih panjang dibandingkan negara-negara lain.
"Mereka (MSCI) memastikan deadline-nya itu bukan November tapi mundur ke tahun depan di Juni. Concern-nya paling utama implementing regulation, impelentasi langkah action dari bursa," kata Airlangga.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika