Oleh: Endang Yusro, Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang dan Founder Mata Pena Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
Di tengah riuhnya sorak-sorai jagad raya menanti Piala Dunia 2026, masih terlalu awal menunjuk siapa yang kelak mengangkat trofi. Bagai permata yang belum terungkap, kekuatan setiap tim masih saling menyembunyi di balik layar babak penyisihan.
Baca Juga- Korban Hanania Travel Tembus 1.286 Orang, Kerugian Jamaah Capai Rp 35,34 Miliar
- Messi Ungkap Alasan Menangis Usai Cetak Gol Pertama ke Gawang Aljazair, tak Terkait Sepak Bola
- BPDP Pamerkan Inovasi Produk Perkebunan di ITTIE 2026
Namun bagi hati yang telah terpaut, dukungan bukanlah soal siapa yang pasti menang, melainkan kepada nilai-nilai yang membuat sepak bola lebih dari sekadar permainan.
Banyak orang menjagokan timnya karena cinta tanah air, idola di lapangan, atau pesona taktik yang memukau mata. Tak jarang pula, cinta itu tumbuh menjadi kesetiaan yang membabi buta.
Berbeda dengan saya ketertarikan pada Jerman berakar bukan semata pada warna seragam atau nama besar, melainkan pada sesuatu yang lebih dalam: simpati, disiplin yang teguh, kerja sama yang utuh, dan semangat yang tak pernah mengenal kata menyerah.
Sepak Bola merupakan Cermin Karakter Sebuah Bangsa
Sejarah mencatat, Jerman bagai pohon besar yang berbuah berkali-kali. Empat kali mengukir sejarah sebagai juara dunia hanya Brazil yang mampu melampauinya ditambah tiga gelar Piala Eropa dan keemasan di pentas Olimpiade. Sebagaimana tertulis dalam Wikipedia, tim ini dijuluki "Spesialis Turnamen".
Bagai mesin diesel yang butuh waktu memanas, mereka mungkin tampak lambat di awal, namun semakin kuat seiring berjalannya waktu. Bukti nyata terlihat saat kalah 0-1 dari Meksiko, sebelum akhirnya melaju bagai badai yang tak terhentikan.
Lebih dari itu, Jerman mengajarkan bahwa pertandingan baru berakhir saat peluit panjang berkumandang.NTahun 1986, tertinggal 0-2 dari Argentina, mereka bangkit menyamakan kedudukan.
Tahun 1994, tertelan 0-2 oleh Korea Selatan, lalu berbalik menang 3-2. Inilah kekuatan yang diakui dunia: kekompakan bagai satu tubuh dan semangat yang tak kenal lelah.
Seperti kata pepatah Arab: "Orang yang berkarakter baik akan tampil baik dalam setiap keadaan." Nilai ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Ash-Shaff: 4, yang berbunyi:
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.