Nasional

Anak Aktif Secara Fisik Berisiko Lebih Rendah Depresi Saat Dewasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak-anak yang aktif secara fisik, semisal berlari dan bermain, berpotensi memperoleh manfaat bagi kesehatan mental hingga dewasa bahkan paruh baya. Studi terbaru yang dipublikasikan di Journal...

14 Oktober 2026, pukul 04:20 WIB · dibaca 2 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak-anak yang aktif secara fisik, semisal berlari dan bermain, berpotensi memperoleh manfaat bagi kesehatan mental hingga dewasa bahkan paruh baya. Studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Affective Disorders menemukan bahwa anak yang memiliki kebugaran tubuh lebih kuat berisiko lebih rendah mengalami depresi di usia 30an ke atas.

Kaitan tersebut utamanya terlihat pada anak-anak dengan kebugaran kardiorespirasi yakni kebugaran yang berkembang melalui aktivitas fisik yang membuat seseorang bernapas lebih cepat dan terengah-engah. Sebaliknya, peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas antara kekuatan otot yang lebih baik pada masa kanak-kanak dan risiko depresi saat dewasa.

Baca Juga

"Studi ini menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dengan kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami depresi saat dewasa," kata peneliti Grant Tomkinson dari Adelaide University, Australia, dilansir laman US News, beberapa waktu lalu.

Tomkinson mengatakan kebugaran merupakan faktor yang bisa ditingkatkan, salah satunya melalui aktivitas fisik. Karena itu, meningkatkan kebugaran sejak dini berpotensi mendukung kesehatan mental dalam jangka panjang.

"Kebugaran mungkin menjadi salah satu sasaran penting untuk meningkatkan kesehatan mental dalam jangka panjang," kata dia.

Penelitian ini menggunakan data dari Childhood Determinants of Adult Health Study, yang melacak kesehatan lebih dari seribu orang sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Pada 1985, peserta berusia 7 hingga 15 tahun menjalani sejumlah tes kebugaran. Mereka kemudian dievaluasi kembali ketika berusia 36 hingga 49 tahun, lebih dari 30 tahun kemudian.

Untuk mengukur kebugaran kardiorespirasi, sebagian besar peserta menjalani tes lari sejauh 1,6 kilometer. Kecepatan menyelesaikan lari tersebut digunakan sebagai ukuran kebugaran kardiorespirasi.

Sementara itu, daya otot diukur melalui tes lompat jauh dari posisi berdiri. Sebagian peserta juga menjalani pemeriksaan tambahan berupa tes bersepeda dengan beban submaksimal untuk mengukur kapasitas kerja fisik serta tes kekuatan genggaman tangan.

Lebih dari tiga dekade setelah pengukuran kebugaran, kondisi depresi peserta dinilai melalui wawancara diagnostik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Peneliti menilai apakah peserta pernah mengalami depresi sepanjang hidup mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik pada masa kanak-kanak dan remaja berkaitan dengan risiko depresi yang lebih rendah ketika dewasa. Pada perempuan, kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik dikaitkan dengan 20 persen lebih rendah risiko depresi. Pada laki-laki, penurunannya sekitar 11 persen saat mereka mencapai usia 36 hingga 49 tahun.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait