Nasional

Arie Kriting Kritik FFI, Soroti Irma Rihi yang Nggak Masuk Nominasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komika sekaligus aktor, Arie Kriting, mengkritik Festival Film Indonesia (FFI) 2026 yang dinilai diskriminatif terhadap aktris Indonesia Timur. Hal ini berkaitan dengan absennya Irma Rihi dari...

15 Oktober 2026, pukul 03:40 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komika sekaligus aktor, Arie Kriting, mengkritik Festival Film Indonesia (FFI) 2026 yang dinilai diskriminatif terhadap aktris Indonesia Timur. Hal ini berkaitan dengan absennya Irma Rihi dari daftar nominasi FFI, padahal aktingnya sebagai Mak di film Na Willa dinilai layak mendapat apresiasi.

Menurut dia, Irma mampu menghadirkan karakter ibu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitasnya sebagai perempuan Indonesia Timur. Karenanya ia berharap besar Irma diakui sebagai salah satu nomine di ajang piala citra FFl.

Baca Juga

"Peran Irma Rihi di Na Willa ini bikin saya senang sekali, di mana dia berperan jadi Ibu-ibu seperti pada umumnya. Cita rasa Indonesia Timurnya tidak hilang, tapi bukan jadi menu utama. Sehingga saya bisa menikmati sekali akting dia sebagai seorang Ibu. Dan jujur saja, saya berharap besar dia bisa dipertimbangkan sebagai nomine di FFI tahun ini," kata Arie dalam unggahan di Instagram, dikutip pada Rabu (14/10/2026).

Aktris Irma Rihi (kanan) saat berperan di film Na Willa. - (Dok. Visinema Studio)

 

Sutradara Kaka Boss itu kemudian menyoroti persoalan representasi karakter masyarakat Indonesia Timur dalam industri perfilman. Berdasarkan pengamatannya, karakter berlatar belakang Indonesia Timur kerap digambarkan melalui stereotip tertentu seperti kemiskinan hingga korban kekerasan seksual.

"Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap? Karena sepertinya hanya itu definisi yang hadir di kepala banyak orang kota ini ketika bicara tentang Orang Timur. Memangnya kenapa kalau berperan sebagai Ibu pada umumnya seperti yang dimainkan oleh Irma Rihi di film Na Willa itu?" tegas Arie.

la juga menyinggung ihwal perbedaan apresiasi antara aktor dari kota besar dan Indonesia Timur. Arie menilai, aktor dari kota yang memerankan tokoh Indonesia Timur dengan menirukan dialek daerah tertentu sering kali mendapat apresiasi.

Sebaliknya, aktor Indonesia Timur belum tentu memperoleh pengakuan serupa ketika memerankan karakter dengan dialek dari daerah lain. "Kalau dibilang, ya Orang Timur aneh kalau menirukan logat Jawa atau berdialek Jakarta. Kawan, sebenarnya kami juga sangat sering merasa aneh dengar kalian bicara logat Timur. Kadang suting di Sumba, dialek di Ambon. Suting di Sulawesi, dialek di Papua. Tapi, harus tetap diapresiasi," kata Arie.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Arie Kriting (@arie_kriting)

 

 

Arie juga menyarankan agar pihak-pihak yang terlibat dalam penjurian FFl kembali menggali perspektif mengenai pembentukan karakter, khususnya karakter yang berkaitan dengan identitas dan latar belakang daerah tertentu. la berharap penilaian terhadap sebuah karakter tidak hanya terpaku pada gambaran yang selama ini dianggap umum, tetapi juga mampu mengenali dimensi lain yang hadir melalui penampilan para aktor di layar lebar.

"Saya sekadar menyarankan saja apa tidak sebaiknya teman-teman yang berkaitan dengan penjurian. FFl ini menggali lagi perspektif mengenai karakter, terutama yang juga berkenaan dengan karakter daerah tertentu. Menggali lagi, biar sudut pandangnya tidak dangkal dan berputar di permukaan lalu luput mengenali bentuk-bentuk lain dari karakter yang hadir di layar lebar," kata dia.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait