Nasional

AS Berpesta 250 Tahun, Paus Leo Justru Datangi Lampedusa, Lambang Penderitaan Migran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di saat jutaan warga Amerika Serikat bersiap larut dalam pesta nasional memperingati 250 tahun kemerdekaan pada 4 Juli, Paus Leo XIV justru memilih jalan yang berlawanan. Di Washington, Presiden...

2 Juli 2026, pukul 01:49 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di saat jutaan warga Amerika Serikat bersiap larut dalam pesta nasional memperingati 250 tahun kemerdekaan pada 4 Juli, Paus Leo XIV justru memilih jalan yang berlawanan.

Di Washington, Presiden Donald Trump menyiapkan perayaan besar yang dipenuhi parade militer, pertunjukan udara, pesta kembang api, konser patriotik, dan berbagai seremoni yang menonjolkan kebanggaan nasional. Di berbagai kota, bendera-bendera Merah Putih Biru berkibar di halaman rumah, taman-taman dipenuhi keluarga yang berpiknik, dan langit malam diperkirakan kembali diterangi pesta kembang api sebagai simbol kejayaan Amerika selama dua setengah abad.

Baca Juga

Namun, ketika sorak-sorai memenuhi Amerika, Paus Leo XIV tidak memilih berdiri di tengah perayaan tersebut. Pemimpin Gereja Katolik pertama yang berasal dari Amerika Serikat itu justru memutuskan mengunjungi Pulau Lampedusa, sebuah pulau kecil milik Italia di Laut Mediterania yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pintu masuk utama para migran dari Afrika dan Timur Tengah menuju Eropa.

Pilihan itu bukan sekadar agenda pastoral biasa. Menurut The Washington Post, Vatikan menyadari sepenuhnya makna simbolis di balik perjalanan tersebut. Ketika sebuah negara merayakan batas-batas negaranya, sang paus memilih berdiri di tempat yang selama ini menjadi saksi ribuan orang mempertaruhkan nyawa demi menembus batas-batas itu.

Lampedusa terletak lebih dekat ke pesisir Tunisia dibandingkan daratan utama Italia. Letaknya yang strategis menjadikannya tujuan pertama bagi kapal-kapal kecil yang membawa para migran dari Libya, Tunisia, dan sejumlah negara Afrika menuju Eropa. Setiap tahun, puluhan ribu orang mencoba mencapai pulau itu dengan perahu seadanya. Banyak yang berhasil tiba, tetapi ribuan lainnya tenggelam di Laut Mediterania akibat kapal karam, cuaca buruk, atau kelebihan muatan. Karena itulah Lampedusa kemudian menjadi simbol krisis kemanusiaan dan migrasi terbesar di kawasan Mediterania, sebagaimana dilaporkan sejumlah media Amerika.

Bagi Paus Leo XIV, Lampedusa bukan sekadar pulau perbatasan. Tempat itu adalah lambang penderitaan manusia yang menurutnya tidak boleh tenggelam oleh gegap gempita politik maupun nasionalisme.

"Seorang paus asal Amerika, yang pertama dalam sejarah, yang pada Hari Kemerdekaan Amerika memilih bukan merayakan kelahiran sebuah negara beserta batas-batas wilayahnya, melainkan berdiri di ambang Laut Mediterania yang terluka. Hal itu sendiri sudah menjadi sebuah pernyataan," kata Pastor Antonio Spadaro, Wakil Sekretaris Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan Vatikan, kepada The Washington Post.

Menurut Spadaro, keputusan itu bukan ditujukan untuk menyerang Amerika Serikat secara langsung.

"Perjalanan ini terjadi ketika Amerika Serikat menjadikan penutupan pintunya bagi para migran sebagai panji kebijakan. Leo tidak menunjuk dengan jari. Namun ia menghadirkan sebuah penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa martabat yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia berada di atas batas-batas negara," ujarnya.

 

Loading... sumber : Xinhua
Lihat di situs asli

Berita terkait