JAKARTA -- Amerika Serikat tengah menyiapkan pangkalan-pangkalan militernya agar mampu bertahan hingga 90 hari tanpa bergantung pada jaringan listrik dan pasokan sipil jika perang besar pecah.
Namun, di balik ambisi membangun pertahanan yang mampu beroperasi secara mandiri tersebut, sebuah audit pemerintah Amerika mengungkap persoalan mendasar: Pentagon menghadapi akumulasi kebutuhan pemeliharaan fasilitas militer yang tertunda senilai sekitar 285 miliar dolar AS, sementara sebagian infrastrukturnya terus mengalami kerusakan akibat kekurangan anggaran.
Baca Juga- Terungkap Rencana Militer AS Jaga Pangkalan Pakai Swasta
- Bersiap Perang Besar, AS Siapkan Pangkalan Militer Bereaktor Nuklir Mikro
- Saingi Patriot AS, ini Kehebatan Rudal SIPER Turki
Temuan itu tercantum dalam laporan Government Accountability Office (GAO), lembaga pengawas federal Amerika Serikat, yang diterbitkan pada 21 Agustus 2026. Audit tersebut mengungkap kebutuhan pemeliharaan tertunda di lingkungan Departemen Pertahanan AS telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun, dari 137 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2020 menjadi sekitar 285 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2025.
Angka itu memperlihatkan besarnya persoalan infrastruktur yang dihadapi militer Amerika ketika pemerintah justru sedang merancang pangkalan yang lebih tangguh terhadap serangan dan gangguan pasokan.
Ironi itu semakin menonjol setelah Pentagon memperkenalkan program FORTRESS America pada 30 September 2026. Program tersebut ditujukan untuk memastikan instalasi militer utama di Amerika tetap beroperasi apabila serangan siber, sabotase, gangguan jaringan listrik, atau terputusnya rantai pasokan melumpuhkan infrastruktur sipil. Akan tetapi, laporan GAO menunjukkan bahwa menjaga fasilitas yang sudah berdiri agar tetap layak digunakan pun belum sepenuhnya memperoleh pembiayaan yang dibutuhkan.
Fox News Digital pada Ahad (25/10/2026) melaporkan bahwa Pentagon sedang mengembangkan persyaratan agar pangkalan militer utama dapat mempertahankan operasi pentingnya secara mandiri selama sedikitnya 90 hari. Mengutip dokumen perencanaan yang ditinjau redaksinya, media tersebut menyebut kebutuhan itu mencakup listrik, air, bahan bakar, dan komunikasi yang tidak bergantung pada bantuan dari luar pangkalan.
Sejumlah media lain, termasuk The War Zone dan Anadolu Agency pada 26 Oktober, kemudian mengulas rencana tersebut sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik besar yang mengganggu infrastruktur nasional Amerika. Namun, target 90 hari itu masih merupakan sasaran perencanaan yang dilaporkan media, bukan bukti bahwa seluruh pangkalan telah memiliki kemampuan tersebut. Pentagon juga belum memublikasikan tenggat penerapan menyeluruh beserta total biaya untuk memenuhi target itu.
Persoalan yang diungkap GAO berbeda dari kebutuhan khusus program FORTRESS. Nilai 285 miliar dolar AS merupakan perkiraan akumulasi pemeliharaan dan perbaikan berbagai fasilitas militer yang tertunda pada tahun fiskal 2025, bukan anggaran untuk pembangkit listrik mandiri ataupun biaya membangun FORTRESS. Meski demikian, kedua persoalan itu bertemu pada pertanyaan yang sama: seberapa siap infrastruktur militer Amerika menopang operasi berkepanjangan ketika sistem pendukungnya menghadapi tekanan luar biasa?
Dua Target 90, Kenyataan Anggaran Berbeda
Laporan GAO berjudul Installation Maintenance: Better Information on Risks and Challenges Needed to Improve Oversight of DOD Facility Conditions menyebut Departemen Pertahanan AS memiliki lebih dari 736 ribu fasilitas di seluruh dunia pada tahun fiskal 2025. Portofolio properti militer tersebut diperkirakan bernilai 2,6 triliun dolar AS, mencakup bangunan, instalasi pendukung, serta berbagai struktur lain yang digunakan untuk operasi militer dan kehidupan personel.
Sekitar sepertiga bangunan militer Amerika telah berusia lebih dari 50 tahun. Kondisi itu menciptakan kebutuhan pemeliharaan besar dan berkelanjutan, terutama karena sejumlah fasilitas dibangun pada periode ketika kebutuhan operasi militer masih sangat berbeda dibandingkan ancaman peperangan modern.
Sejak 2014, Pentagon sebenarnya menetapkan sasaran agar setiap matra mengalokasikan pembiayaan pemeliharaan rutin sedikitnya 90 persen dari kebutuhan yang dihitung melalui Facilities Sustainment Model atau FSM. Model tersebut digunakan untuk memperkirakan biaya mempertahankan kondisi fasilitas berdasarkan luas, jenis bangunan, lokasi, dan faktor biaya lainnya.
Namun, GAO menemukan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara secara umum hanya mengajukan anggaran sekitar 80 persen dari kebutuhan yang direkomendasikan sepanjang tahun fiskal 2021 hingga 2025. Korps Marinir bahkan mencatat penurunan tingkat permintaan pendanaan pemeliharaan dari sekitar 80 persen menuju 40 persen selama periode lima tahun tersebut, yang menurut pejabat Pentagon berkaitan dengan pengalihan prioritas ke proyek restorasi dan modernisasi.
Dengan demikian, dua angka 90 kini memperlihatkan paradoks kebijakan pertahanan Amerika. Di satu sisi, Pentagon ingin fasilitasnya bertahan hingga 90 hari tanpa bantuan sipil. Di sisi lain, target lama untuk membiayai 90 persen kebutuhan pemeliharaan rutin belum tercapai, bahkan ketika sebagian infrastruktur vital sudah mengalami penurunan kondisi.
Dalam audit terhadap delapan instalasi yang dipilih GAO, tidak satu pun kantor pemeliharaan pangkalan melaporkan menerima pendanaan yang memenuhi target 90 persen itu. Para pengelola fasilitas mengakui harus menentukan pekerjaan perbaikan yang lebih dahulu ditangani dan menunda pekerjaan lain karena dana yang tersedia tidak mencukupi seluruh kebutuhan.
Temuan tersebut tidak berarti seluruh pangkalan militer Amerika menghadapi tingkat kerusakan yang sama. Namun, kenyataan bahwa delapan instalasi yang diteliti mengalami kekurangan pembiayaan menunjukkan persoalan yang tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kerusakan sesaat pada satu bangunan atau pangkalan tertentu.
Pangkalan Pembom B-52 Pun Mengalami Kerusakan
Salah satu contoh paling mencolok ditemukan di Pangkalan Udara Minot, North Dakota, yang menjadi salah satu lokasi pengoperasian pembom strategis B-52 Amerika Serikat. GAO melaporkan area parkir pesawat pembom tersebut telah melewati perkiraan umur pakainya lebih dari 30 tahun, sementara penggantian keseluruhan permukaan fasilitas belum terselesaikan.
Hingga September 2024, pengelola pangkalan baru berhasil mengganti sekitar sepertiga area yang membutuhkan perbaikan. Sisa permukaan yang menua terus memerlukan pekerjaan tambal-sulam, sehingga personel harus melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengurangi risiko serpihan material yang dapat membahayakan pesawat.
Menurut GAO, pangkalan itu telah menghabiskan sekitar 3,5 juta dolar AS untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur lama tersebut, di luar kebutuhan tenaga kerja tambahan untuk pemeriksaan rutin. Pejabat pangkalan menilai perbaikan berulang atas fasilitas yang sudah melewati umur pakainya berpotensi lebih tidak efisien dibandingkan penggantian secara menyeluruh.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika