REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.
Bahlil menyebut Indonesia kini berada dalam situasi survival mode atau kondisi yang menuntut penguatan kemampuan bertahan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar sumber daya alam Indonesia lebih dahulu dimanfaatkan untuk kepentingan domestik sebelum dialokasikan untuk kegiatan ekspor.
Baca Juga- Dijadwalkan Akhir Bulan Ini, Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur Belum Kantongi Izin
- DPRD Bandung Soroti Pentingnya Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja
- Bank CIMB Niaga Syariah Bersama Dompet Dhuafa Perluas Literasi Sukuk Wakaf SWR007
"Saya kemarin baru selesai melakukan rapat kabinet dengan Bapak Presiden, rapat kabinet paripurna. Sudah jelas arahnya adalah sumber daya alam kita, kita akan pakai untuk kepentingan domestik terlebih dahulu. Ini survival mode," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat meresmikan fasilitas produksi gas Jangkrik di lepas pantai Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
Bahlil menjelaskan, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi gas nasional melalui pengembangan sejumlah lapangan migas baru. Salah satu proyek yang diandalkan adalah fasilitas Jangkrik yang dikelola oleh Eni bersama mitra strategisnya di perairan Kalimantan Timur.
Fasilitas tersebut diproyeksikan memberikan tambahan produksi gas sekitar 290 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Tambahan pasokan itu terdiri atas produksi awal sebesar 60 MMSCFD yang mulai mengalir pada 9 Oktober 2026 serta rencana penambahan 230 MMSCFD dari dua sumur tambahan pada akhir bulan ini.
Bahlil mengatakan pengembangan sejumlah lapangan gas lainnya di wilayah Kalimantan Timur akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan. Produksi gas dari portofolio proyek Eni bersama mitranya itu ditargetkan mampu mencapai sekitar tiga miliar standar kaki kubik per hari (BCFD) pada 2029 mendatang.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi serta pasokan bahan baku industri dalam negeri. Pemerintah tetap membuka peluang ekspor gas, namun pelaksanaannya hanya dilakukan setelah kebutuhan domestik benar-benar terpenuhi sepenuhnya.
"Dengan penambahan hari ini 290 MM, dan di 2028–2029 akan mencapai 3.000 MM, maka saya menindaklanjuti arahan Bapak Presiden, kita akan memprioritaskan kebutuhan domestik terlebih dahulu, setelah itu sebagiannya kita akan melakukan ekspor," ujar Bahlil.
Menurut Menteri ESDM, peningkatan produksi gas harus diikuti dengan pengembangan industri hilir yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah berencana membangun pusat hilirisasi petrokimia di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan komoditas gas sebagai bahan baku utamanya.
Ia menilai daerah penghasil sumber daya alam perlu memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari aktivitas produksi dan pengolahan energi. Pengembangan industri hilir di daerah diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat perekonomian daerah setempat.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika