REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- In this economy, masyarakat "dituntut" semakin cermat mengelola keuangan. Berbagai upaya pun dilakukan, mulai dari menurunkan atau downgrade gaya hidup hingga mencari sumber penghasilan tambahan (side hustle) di luar pekerjaan utama.
Berdasarkan hasil olahan Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2024, sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari total pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 juga mencatat, sebagian masyarakat memilih mencari sumber pendapatan tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Baca Juga- Libur tapi Masih Mikirin Kerjaan? Intip Alasan Mengapa Kita Susah Istirahat
- Lowongan Pekerjaan Berkeahlian AI Tumbuh 69 Persen, Ini yang Dicari Perusahaan
- Empat Jurus Mencari Rumah Pertama Bagi Gen-Z
Tren mencari penghasilan tambahan ini menjadi perhatian LinkedIn. Platform jejaring profesional ini menghadirkan sejumlah fitur baru untuk membantu pengguna mendapat proyek sampingan hingga membangun bisnis.
"Fitur baru ini juga memungkinkan pengguna menampilkan beberapa pekerjaan sekaligus di profil mereka, serta membantu pendiri bisnis dan kreator konten mengembangkan usaha dan menghasilkan pendapatan melalui platform tersebut," kata LinkedIn dalam pernyataannya dilansir laman Engadget, Jumat (16/10/2026).
Apa saja fitur baru yang dimaksud? Salah satunya pengujian fitur Network yaitu feed yang hanya menampilkan unggahan dan pembaruan dari koneksi yang sudah dimiliki pengguna serta akun yang mereka ikuti. Fitur ini berbeda dari feed yang mengandalkan rekomendasi algoritma. Dengan Network, pengguna dapat lebih mudah mengikuti aktivitas orang-orang yang memang terhubung dengan mereka di LinkedIn.
LinkedIn juga menghadirkan fitur kartu nama digital (business card) yang dapat ditambahkan ke aplikasi dompet digital di ponsel. Fitur ini dirancang untuk mempermudah pengguna terhubung di LinkedIn saat bertemu secara langsung.
LinkedIn juga memperkenalkan fitur Advice Sessions yang memungkinkan pendiri bisnis dan pemilik usaha menawarkan konsultasi dengan tarif berbayar. Namun pada tahap awal, fitur ini hanya tersedia bagi pengguna di Amerika Serikat yang berlangganan Business Premium.
Selain itu, LinkedIn memperkenalkan dasbor analitik baru untuk membantu kreator memahami performa unggahan mereka. Khusus untuk kreator konten video, LinkedIn juga berencana memperluas program bagi hasil. Nantinya kreator akan menerima sebagian dari hasil iklan pre-roll, yaitu iklan yang ditayangkan sebelum video utama diputar.
Chief Product Officer Linkedin, Hari Srinivasan mengatakan berbagai pembaruan ini mencerminkan perubahan pola kerja terutama seiring perkembangan kecerdasan buatan (Al). Perusahaan mencatat jumlah pengguna yang mencantumkan kata founder atau pendiri bisnis di profil mereka meningkat 70 persen selama setahun terakhir.
Selain itu, semakin banyak pengguna yang mencantumkan beberapa pekerjaan atau peran yang dijalankan secara bersamaan dalam profil mereka. "Jelas ada lebih banyak orang yang memulai bisnis saat ini. Namun kami belum bisa memastikan apakah itu disebabkan oleh disrupsi tenaga kerja atau karena Al mempermudah seseorang membangun bisnis," kata Hari Srinivasan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika