Nasional

BEI Keluarkan 81 Saham HSC dari IHSG, Bobot Dialihkan ke Saham Lain

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan penghapusan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak serta-merta menghilangkan...

3 November 2026, pukul 00:53 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan penghapusan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak serta-merta menghilangkan bobot saham-saham tersebut. Bobot yang sebelumnya dimiliki saham-saham itu dialihkan secara proporsional ke saham lain yang tetap masuk dalam penghitungan indeks.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan penyesuaian tersebut mulai diterapkan pada Senin (2/11/2026). Proses teknisnya telah dilakukan setelah perdagangan Jumat (30/10/2026) berakhir.

Baca Juga

Dia menjelaskan, penghapusan 81 saham HSC merupakan bagian dari penyesuaian komposisi penghitungan IHSG. Setelah saham-saham tersebut dikeluarkan, terdapat 837 saham yang tetap diperhitungkan dalam indeks, tidak termasuk saham-saham di papan akselerasi.

Jeffrey menegaskan, penyesuaian tersebut tidak dimaksudkan untuk memicu penurunan indeks secara drastis. Bobot saham yang dikeluarkan didistribusikan kembali secara proporsional kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.

Dengan mekanisme tersebut, perubahan komposisi indeks tidak berarti seluruh bobot saham yang dikeluarkan hilang dari penghitungan IHSG.

Sebelumnya, BEI juga menerapkan penyesuaian serupa pada sejumlah indeks, antara lain IDX30, LQ45, dan IDX80. Adapun saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi menjadi perhatian karena dapat menimbulkan persoalan likuiditas.

Presiden Direktur sekaligus Head of Indonesia Allianz Global Investors Indonesia, Aliyahdin (Adi) Saugi, menjelaskan saham semacam itu bisa mudah dibeli, tetapi sulit dijual ketika investor membutuhkan likuiditas.

Karena itu, menurut Adi, manajer investasi perlu memperhitungkan risiko likuiditas sebelum memasukkan saham ke dalam portofolio. Pengeluaran saham dari indeks acuan juga dapat memengaruhi keputusan investasi, terutama bagi pengelola dana yang menjadikan indeks sebagai tolok ukur kinerja.

Loading... sumber : Antara
Lihat di situs asli

Berita terkait