REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Masa depan hubungan Amerika Serikat dan Israel menghadapi tantangan baru seiring perubahan sikap masyarakat Amerika terhadap Israel.
Meski pengaruh kelompok pro-Israel masih kuat di Kongres, pemilu, dan institusi pengambil kebijakan, dukungan publik yang selama puluhan tahun menjadi fondasi politik hubungan kedua negara mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.
Baca Juga- Sejumlah Fakta Ini Ungkap Betapa Rasulullah SAW Lebih Sering Berbagi Berita Gembira
- Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
- Kisah Anak Kecil, Penyihir, dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting yang Patut Direnungkan
Direktur Eksekutif Middle East Council on Global Affairs di Doha, Khalid Al-Jaber, menilai perubahan tersebut dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan Amerika Serikat-Israel ke depan.
Menurut Al-Jaber, persoalan yang dihadapi kelompok lobi pro-Israel di Washington bukan lagi sekadar kemampuan memengaruhi politisi Amerika. Jaringan pendanaan, hubungan politik, dan mekanisme tekanan yang mereka miliki masih kuat.
Namun, tantangan baru muncul ketika seorang politisi harus memilih antara mengikuti tekanan kelompok lobi atau menyesuaikan diri dengan perubahan pandangan para pemilihnya.
Dengan demikian, menurut Al-Jaber, mulai terbentuk kesenjangan antara kalkulasi elite politik Amerika dan perubahan opini publik.
Perubahan itu menjadi semakin penting karena hubungan Amerika Serikat-Israel selama ini tidak hanya ditopang oleh kepentingan strategis kedua negara, tetapi juga oleh legitimasi politik di tengah masyarakat Amerika.
Al-Jaber menyoroti buku Israel’s Lobby: America in the Grip of a Foreign Power karya jurnalis investigasi Eli Clifton dan profesor ilmu politik Ian Lustick yang membahas persoalan tersebut.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika