JAKARTA – Harga Bitcoin melemah setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan tekanan inflasi yang masih tinggi membuat investor aset kripto perlu mewaspadai risiko volatilitas pasar.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (29/10/2026) siang, harga Bitcoin berada di kisaran 80 ribu dolar AS atau turun 1,71 persen dalam 24 jam terakhir. Secara mingguan, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut melemah 2,38 persen dan sempat diperdagangkan di sekitar 79.800 dolar AS.
Baca Juga- Indonesia Kembangkan Teknologi Kriptografi Hadapi Era Komputasi Kuantum
- RI Mulai Tukar Data Pajak Kripto Lintas Negara 2027 via Kerangka OECD
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum yang diperdagangkan di kisaran 2.300 dolar AS. Harga ETH turun 2,51 persen dalam sehari dan 5,91 persen dalam sepekan terakhir.
Tekanan pasar tersebut terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 hingga 4 persen dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Keputusan itu disetujui melalui pemungutan suara dengan hasil 10 berbanding dua.
Dua pejabat The Fed, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, berbeda pendapat dengan mayoritas anggota komite. Keduanya memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih tumbuh kuat, sementara inflasi tetap berada pada tingkat yang tinggi. Bank sentral tersebut masih membutuhkan perkembangan data ekonomi untuk menentukan kebijakan yang sesuai guna mengembalikan inflasi ke target dua persen.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, keputusan mempertahankan suku bunga belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian pasar. Menurut Ryan, investor perlu mencermati arah inflasi dan kemungkinan perubahan kebijakan moneter AS dalam beberapa waktu mendatang.
“Keputusan mempertahankan suku bunga bukan berarti ketidakpastian pasar langsung berakhir. Investor masih perlu mencermati bagaimana inflasi berkembang dan bagaimana The Fed merespons data ekonomi berikutnya. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga dapat memengaruhi selera risiko investor, termasuk terhadap aset kripto,” ujar Ryan, Jumat (30/10/2026).
Selain Bitcoin dan Ethereum, sejumlah aset kripto alternatif atau altcoin juga mengalami tekanan harga. Hyperliquid (HYPE), misalnya, diperdagangkan di kisaran 78,45 dolar AS atau melemah 3,92 persen dalam sehari dan 1,41 persen dalam sepekan terakhir.
Ryan mengatakan, investor tidak seharusnya hanya mengandalkan satu pengumuman kebijakan moneter atau pergerakan harga harian sebagai dasar pengambilan keputusan. Setiap aset kripto memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga memerlukan strategi investasi yang sesuai.
“Dalam situasi seperti ini, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu pengumuman atau pergerakan harga harian. Memahami konteks pasar, menentukan batas risiko, dan menyesuaikan strategi dengan kondisi masing-masing menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan secara lebih terukur,” kata Ryan.
Di tengah volatilitas tersebut, Bittime menyediakan layanan perdagangan kontrak berjangka atau futures yang memungkinkan pengguna mengambil posisi beli (long) maupun jual (short) berdasarkan perkiraan arah pergerakan harga. Layanan tersebut melengkapi perdagangan pasar spot dan staking yang tersedia di platform Bittime.
Ryan mengingatkan bahwa ketersediaan berbagai fitur perdagangan tidak menjamin keuntungan bagi investor. Pemahaman mengenai mekanisme transaksi dan pengelolaan risiko tetap diperlukan, terutama ketika pasar mengalami pergerakan harga yang tajam.
Ikuti Whatsapp Channel Republika